Ketika membaca 1 Korintus 8:6, banyak orang Kristen mulai bertanya-tanya: “Apakah ini berarti Yesus bukan Allah? Bagaimana bisa hanya ada satu Allah yaitu Bapa, tapi juga disebut satu Tuhan yaitu Yesus?” Ayat itu berbunyi: “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya kita kembali, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Ini bukan ayat yang mudah dimengerti jika dibaca tanpa konteks keseluruhan Alkitab.
Bukan Pembagian Kelas, Tapi Penekanan Relasi
Ayat ini tidak sedang membagi Allah dan Yesus menjadi dua entitas yang terpisah dalam esensi, melainkan menunjukkan fungsi dan relasi antara Bapa dan Anak. Allah disebut sebagai “sumber” dari segala sesuatu, dan Yesus sebagai “perantara” atau “alat” melalui siapa segala sesuatu dijadikan. Ini selaras dengan Yohanes 1:3 yang menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Firman, dan Firman itu adalah Yesus (Yohanes 1:1,14).
Konteks 1 Korintus 8 adalah tentang memperjelas siapa yang patut disembah oleh orang percaya di tengah dunia politeistik. Rasul Paulus sedang menegaskan bahwa tidak ada banyak “allah” dan “tuhan” seperti kepercayaan zaman itu, tetapi hanya satu Allah sejati dan satu Tuhan sejati yang dikenal dalam kekristenan, yaitu Allah Bapa dan Yesus Kristus. Ini bukan pernyataan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, melainkan bahwa keduanya bekerja bersama dalam ciptaan dan keselamatan.
Yesus adalah Tuhan, Tapi Juga Adalah Allah
Ketika Alkitab menyebut Yesus sebagai Tuhan, itu bukan sekadar gelar kehormatan. Dalam Perjanjian Lama, gelar “Tuhan” (YHWH) dipakai untuk Allah. Dalam Filipi 2:10-11, dikatakan bahwa semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan pengakuan itu memuliakan Bapa. Artinya, pengakuan terhadap keilahian Kristus bukan menyaingi Bapa, tapi justru menyatakan siapa Allah itu sepenuhnya.
Satu Dalam Esensi, Berbeda Dalam Peran
Pemahaman Tritunggal menolong kita di sini: satu Allah yang esa, namun dinyatakan dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam Yohanes 10:30 Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Itu bukan sekadar kesatuan visi, tapi kesatuan dalam hakikat.
Yesus bukan “Tuhan” yang lain dari Allah, melainkan Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Bapa dan Anak tidak bersaing, mereka satu dalam misi dan kuasa. Jadi ketika Paulus berkata “satu Allah” dan “satu Tuhan,” ia sedang meruntuhkan konsep politeisme, bukan mengurangi keilahian Yesus.
Kesimpulan yang Menguatkan Iman
Jadi, maksud dari 1 Korintus 8:6 bukan memisahkan keilahian Yesus dari Allah, tetapi menegaskan kesatuan dan fungsi mereka dalam relasi Tritunggal. Bapa adalah sumber segala sesuatu, dan Yesus adalah Tuhan yang menyatakan kasih dan keselamatan Allah kepada dunia. Keduanya tidak saling bersaing, tetapi bekerja dalam kesatuan sempurna untuk menyelamatkan kita.
Dengan pemahaman ini, kita bisa membaca ayat-ayat seperti 1 Korintus 8:6 bukan dengan kebingungan, tetapi dengan rasa kagum akan keindahan relasi Bapa dan Anak, dan kasih-Nya yang besar bagi kita.