Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi menyentil hati yang paling dalam: Apakah aku benar-benar mencintai Tuhan, atau hanya mencintai apa yang bisa Dia berikan padaku? Di saat hidup baik-baik saja, doa terkabul, dan berkat mengalir, kita mudah berkata, “Tuhan baik!” Tapi bagaimana ketika jawaban doa belum datang, pintu-pintu terasa tertutup, dan Tuhan seolah diam?
Dalam Ayub 1:21, Ayub berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ini bukan ucapan basa-basi. Ayub mengucapkannya setelah kehilangan hampir segalanya anak, harta, bahkan kesehatannya. Ayub membuktikan bahwa kasihnya kepada Tuhan tidak tergantung pada apa yang ia terima. Kasihnya murni, bukan transaksional.
Sering kali tanpa sadar, kita menjadikan Tuhan seperti sumber ATM surgawi. Kita setia kalau berkat mengalir, kita rajin doa kalau ingin sesuatu dikabulkan. Tapi begitu doa tidak dijawab sesuai harapan, hati mulai menjauh. Inilah saatnya kita bercermin: apakah kasih kita kepada Tuhan tergantung situasi? Atau kita tetap mengasihi-Nya karena siapa Dia, bukan karena apa yang Dia beri?
Yesus juga pernah menantang pengikut-Nya dengan keras. Dalam Yohanes 6:26, setelah memberi makan lima ribu orang, banyak orang kembali mencari-Nya. Tapi Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Mereka tidak mengejar Yesus karena pribadi-Nya, tapi karena kenyangnya berkat.
Tuhan tentu senang memberi. Dia adalah Bapa yang murah hati, dan tidak salah memohon pada-Nya. Tapi kasih yang sejati tidak bergantung pada hasil. Seperti hubungan seorang anak dan ayah, anak yang mengasihi karena dekat, bukan karena dapat mainan.
Dalam Ulangan 6:5, kita diperintahkan, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tidak disebutkan “kasihilah Tuhan jika berkat-Nya cukup” atau “jika hidupmu lancar.” Kasih sejati tidak pakai syarat.
Mari kita renungkan: Jika semua hal baik diambil, akankah aku tetap mencintai Tuhan? Jika jawabannya “tidak tahu” atau “belum tentu”, itu bukan akhir, tapi awal dari sebuah doa jujur: Tuhan, ajarku untuk mencintai Engkau karena siapa Engkau, bukan karena yang Engkau beri. Pulihkan hatiku dari kasih yang bersyarat, dan bawa aku makin dekat kepada-Mu. Amin.