🏠

Apakah Tuhan Bisa Menyesal? Memahami Konsep Ilahi yang Sulit Dicerna

Ketika kita membaca ayat-ayat seperti Kejadian 6:6, “Maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu menyedihkan hati-Nya,” kita mungkin langsung bertanya-tanya: apakah Tuhan bisa berubah pikiran? Bukankah Dia Mahatahu dan sempurna? Bagaimana mungkin Dia menyesal atas sesuatu yang Dia sendiri ciptakan?

Pertanyaan ini bukan hanya menarik, tapi juga penting untuk memahami siapa Tuhan sebenarnya dan bagaimana Dia berelasi dengan manusia. Mari kita coba bahas ini lebih dalam.

Menyesal dalam Bahasa Manusia

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa Alkitab sering kali menggunakan bahasa manusia agar kita bisa memahami konsep ilahi yang sulit dijelaskan. Istilah seperti “menyesal” dipakai supaya kita bisa merasakan kedalaman emosi Tuhan terhadap kejahatan manusia. Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan sebagai “menyesal” berasal dari kata Ibrani nacham, yang juga bisa berarti “berdukacita” atau “merasa sakit hati.”

Artinya, bukan Tuhan tidak tahu apa yang akan terjadi, melainkan Dia merespons situasi manusia dengan kasih yang sangat dalam, yang bisa digambarkan sebagai penyesalan dalam konteks relasi, bukan dalam konteks kesalahan atau ketidaktahuan.

Apakah Tuhan Berubah?

Alkitab juga jelas menyatakan bahwa Tuhan tidak berubah. Dalam Maleakhi 3:6, tertulis, “Aku, TUHAN, tidak berubah.” Demikian juga dalam Bilangan 23:19, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.” Jadi, di satu sisi, kita melihat Tuhan digambarkan “menyesal,” tapi di sisi lain Dia dikatakan tidak bisa berubah atau menyesal seperti manusia.

Bagaimana menjelaskannya? Ini bukan kontradiksi, melainkan perbedaan sudut pandang. Ayat seperti Kejadian 6:6 menunjukkan respon emosional Tuhan terhadap dosa manusia, sementara Bilangan 23:19 menunjukkan ketetapan karakter dan kehendak Tuhan yang tidak berubah. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Tapi Dia tetap merespons manusia secara personal dan penuh kasih.

Tuhan yang Hidup dan Berelasi

Tuhan kita bukan pribadi yang statis dan jauh. Dia adalah Pribadi yang hidup, yang terlibat dalam sejarah manusia. Ketika manusia berubah, sering kali Tuhan juga mengubah pendekatan-Nya dalam berinteraksi dengan mereka. Ini terlihat misalnya dalam kisah Yunus 3:10, saat Tuhan membatalkan rencana kehancuran atas Niniwe karena mereka bertobat. Apakah itu berarti Tuhan menyesal? Tidak. Itu justru menunjukkan bahwa Tuhan setia pada prinsip-Nya: bahwa Dia akan menunjukkan belas kasih kepada yang bertobat.

Menyesal Tapi Tetap Kudus

Akhirnya, kita bisa memahami bahwa ketika Alkitab menyebut Tuhan “menyesal,” itu bukan karena Ia melakukan kesalahan atau kehilangan kendali. Tapi karena kasih-Nya yang besar terhadap ciptaan-Nya, Ia merasakan dukacita saat melihat manusia memilih jalan yang salah. Dan dari kasih itulah, Ia memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus (Roma 5:8).

Jadi, bisa dibilang bahwa “penyesalan” Tuhan bukanlah seperti penyesalan kita, melainkan bentuk kasih yang aktif, yang tidak tinggal diam saat melihat kerusakan terjadi.

🔊 Dengarkan Secara Audio
© 2026 KebenaranHidup.com | Christ Project | Kebijakan Privasi