Pertanyaan “Apakah Tuhan itu lelaki?” sering kali muncul dalam diskusi teologis dan bahkan dalam percakapan santai antar orang percaya. Dalam Alkitab, Tuhan sering disebut dengan kata ganti “Dia” atau “Bapa”, yang secara bahasa memang merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Tapi apakah itu berarti Tuhan benar-benar laki-laki seperti manusia?
Tuhan Tidak Terbatas oleh Jenis Kelamin
Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa Tuhan adalah Roh (Yohanes 4:24). Sebagai Roh, Tuhan tidak memiliki tubuh jasmani seperti manusia. Jenis kelamin adalah konsep biologis yang berlaku untuk makhluk ciptaan, bukan untuk Sang Pencipta. Jadi, secara esensi, Tuhan tidak bisa dikotakkan dalam kategori “laki-laki” atau “perempuan” seperti manusia.
Mengapa Tuhan Disebut “Bapa”?
Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai “Bapa” karena peran-Nya sebagai pelindung, pemimpin, dan sumber kehidupan. Dalam budaya Ibrani kuno, sosok ayah dianggap sebagai kepala keluarga dan simbol otoritas. Jadi, penggunaan kata “Bapa” dalam konteks Alkitab lebih menunjukkan relasi dan fungsi Tuhan terhadap umat-Nya, bukan jenis kelamin-Nya secara harfiah.
Yesus sendiri mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa, “Bapa kami yang di sorga…” (Matius 6:9). Tapi ini bukan berarti Tuhan adalah pria. Ini adalah cara yang paling relevan dan penuh makna dalam budaya waktu itu untuk menggambarkan hubungan kasih yang penuh kedekatan antara Allah dan manusia.
Tuhan Juga Memiliki Ciri Keibuan
Menariknya, Alkitab juga menggambarkan sifat-sifat Tuhan dengan gambaran keibuan. Misalnya dalam Yesaya 66:13, Tuhan berkata, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu.” Atau Hosea 11:3-4 yang menggambarkan Tuhan sebagai Pribadi yang menggendong dan membelai seperti ibu kepada anaknya.
Ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki dan mengekspresikan kasih, kelembutan, dan perhatian semua sifat yang sering diasosiasikan dengan peran ibu.
Allah Melampaui Kategori Gender
Ketika kita membatasi Tuhan pada gender tertentu, kita justru merendahkan kemahakuasaan-Nya. Allah adalah Pribadi yang sempurna, melampaui batasan manusia. Dia bisa memakai gambaran apapun untuk menyatakan diri-Nya, agar kita dapat lebih mengerti siapa Dia. Tapi itu bukan berarti Ia terbatas oleh gambaran itu.
Tuhan menciptakan manusia, “laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27), menurut gambar dan rupa-Nya. Ini berarti baik pria maupun wanita mencerminkan sebagian dari karakter Allah. Keduanya punya nilai dan tujuan yang setara dalam rencana ilahi.
Jadi, Apa Jawabannya?
Apakah Tuhan itu lelaki? Tidak, dalam pengertian biologis atau jasmani. Tuhan adalah Roh yang melampaui jenis kelamin, tapi memilih menyatakan diri-Nya sebagai “Bapa” untuk menunjukkan hubungan kasih dan otoritas-Nya. Ini bukan soal jenis kelamin, tapi soal peran dan kedekatan.
Yang paling penting adalah mengenal siapa Tuhan sebenarnya bukan sebagai pria atau wanita, tapi sebagai Pribadi penuh kasih, adil, dan setia yang ingin menjalin hubungan dengan kita semua.