Pertanyaan ini mungkin terdengar kontroversial, bahkan membuat kita merasa tidak nyaman: Apakah Tuhan menciptakan orang jahat? Jika Tuhan itu baik dan penuh kasih, mengapa ada kejahatan, bahkan orang-orang yang tampaknya memang “jahat sejak lahir”? Mari kita bahas ini dengan santai tapi mendalam, karena ternyata pertanyaan ini sudah sejak lama jadi bahan pergumulan banyak orang percaya.
Tuhan Menciptakan Manusia, Bukan Kejahatan
Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa Alkitab menyatakan Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27). Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas, artinya kita bisa memilih antara taat atau tidak taat. Jadi, bukan Tuhan yang menciptakan manusia untuk jadi jahat, melainkan manusia yang menggunakan kehendak bebasnya untuk berbuat dosa.
Yesaya 45:7 sering disalahpahami karena mengatakan: “Yang membentuk terang dan menciptakan kegelapan, yang membuat damai dan menciptakan malapetaka; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Namun dalam konteksnya, ayat ini menekankan bahwa Tuhan adalah Penguasa atas segala sesuatu, termasuk akibat dari dosa manusia. Bukan berarti Tuhan menciptakan kejahatan dalam arti moral, melainkan Ia berdaulat atas semua konsekuensi.
Tuhan Dapat Memakai Orang Jahat untuk Rencana-Nya
Salah satu hal yang mengejutkan dalam Alkitab adalah bahwa Tuhan bisa memakai orang jahat untuk mencapai tujuan-Nya. Contohnya Firaun dalam kisah Musa. Dalam Roma 9:17 tertulis: “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Justru untuk itulah Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.’”
Apakah ini berarti Tuhan sengaja menjadikan Firaun jahat? Tidak. Firaun memang keras kepala, dan Tuhan mengeraskan hati yang sudah memang keras itu untuk menyatakan kuasa-Nya. Ini adalah bentuk bagaimana Tuhan memakai kondisi manusia, baik yang taat maupun yang memberontak, demi rencana keselamatan yang lebih besar.
Manusia Bertanggung Jawab atas Pilihannya
Di sepanjang Alkitab, manusia selalu diminta untuk memilih yang benar. Ulangan 30:19 berkata: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan hidup dan mati, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan…” Artinya, setiap manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya. Tidak ada yang bisa menyalahkan Tuhan atas kejahatan yang kita perbuat.
Bahkan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus, bukanlah boneka tak berdaya yang dijadikan “jahat” oleh Tuhan. Ia punya pilihan, tapi ia memilih jalannya sendiri. Dan Tuhan tetap memakai pilihan itu dalam rencana keselamatan yang luar biasa melalui salib.
Kebaikan Tuhan Tidak Berubah
Jangan lupa, Tuhan tidak pernah berubah dalam kasih dan kebaikan-Nya. Mazmur 145:9 menegaskan, “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” Kejahatan yang terjadi di dunia bukan berasal dari karakter Tuhan, tapi dari penyalahgunaan kebebasan manusia.
Jadi, apakah Tuhan menciptakan orang jahat? Tidak. Ia menciptakan manusia dengan potensi besar, termasuk potensi untuk memilih jalan yang salah. Tapi Ia tetap memberikan kasih karunia bagi yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya.
Pada akhirnya, ini semua tentang kasih yang memberi ruang untuk memilih. Dan dalam pilihan itu, kita dipanggil untuk hidup benar di hadapan-Nya, karena Tuhan ingin semua orang diselamatkan (1 Timotius 2:4).