Kadang kamu sudah berbuat baik, tapi balasan yang datang justru dingin, disalahpahami, atau tidak diakui sama sekali. Hati bertanya, “Untuk apa aku capek-capek?” Yesus tahu rasa ini. Sepuluh orang kusta disembuhkan, namun hanya satu yang kembali mengucap syukur (Lukas 17:17). Artinya, kebaikan yang tulus tidak selalu dihargai manusia, tetapi tetap berharga di mata Allah. Alkitab menegaskan, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya” (Matius 6:4). Apakah engkau melayani supaya dilihat orang, atau karena engkau sudah dilihat Allah?
Ada dua godaan saat kebaikan diabaikan. Pertama, berhenti berbuat baik. Kedua, mengeraskan hati lalu membalas dingin. Firman meremukkan keduanya: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai” (Galatia 6:9). “Allah bukan tidak adil sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu” (Ibrani 6:10). Allah tidak pernah amnesia terhadap kasih yang kamu tabur. Paulus menambahkan penawar pahit, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Kebaikan menjadi ibadah ketika tujuannya bergeser dari validasi ke persembahan.
Apakah mengampuni dan terus berbuat baik berarti membiarkan ketidakadilan? Tidak. Injil tidak menghapus kebenaran. Tetapi ia menolak dendam sebagai bahan bakar. “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan… kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:17-21). Bahkan bila berbuat baik mendatangkan respon tidak adil, Petrus menegaskan, “Jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, itu adalah kasih karunia pada Allah” (1 Petrus 2:20). Kemenangan rohani sering berwujud hati yang tetap lembut ketika tidak diapresiasi.
Supaya hati tidak mengeras, latih ritme sederhana berikut ini saat kebaikanmu tidak dianggap:
- Luruskan pusat setiap kali mulai. Bisikkan, “Tuhan, ini untuk-Mu.” Pegang Kolose 3:23. Motif yang benar mengubah kekecewaan menjadi persembahan.
- Hitung dengan metrik surga. Tanyakan, “Apakah langkah ini membuatku semakin serupa Kristus?” Buah Roh, bukan sorak, adalah ukuran kemajuan (Galatia 5:22-23).
- Rawat ruang tersembunyi. Bawa sakit hati ke hadirat Tuhan, bukan ke gosip. “Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya” (Mazmur 62:9). Hati yang dituang di hadirat-Nya tidak mudah tumpah di hadapan orang.
- Beri batas yang bijak. Mengasihi bukan naif. Ada relasi yang perlu jarak sehat agar kebaikan tetap bersih dan tidak jadi pelarian ego.
- Rayakan satu wajah, bukan seribu angka. Ingat kata Yesus, apa yang dilakukan bagi yang paling hina kamu lakukan bagi-Nya (Matius 25:40). Jika satu hati dikuatkan, pelayananmu tidak sia-sia.
- Catat benih, bukan hanya panen. Tulis tiga kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini. Di akhir pekan, baca ulang bersama Galatia 6:9. Ingatan menolongmu melihat tangan Allah di balik hal sederhana.
Pada akhirnya, yang kamu kejar bukan status “orang baik”, melainkan kesetiaan murid. “Karena itu, tetaplah teguh, giat selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab kamu tahu bahwa jerih payahmu tidak sia-sia di dalam Tuhan” (1 Korintus 15:58). Kebaikanmu mungkin tidak ditandai manusia, tetapi tidak ada yang luput dari catatan Bapa. Ketika kamu memilih tetap lembut, mengalahkan jahat dengan baik, dan melayani diam-diam, engkau sedang membangun altar pujian yang harum di hadapan-Nya. Dan pada waktunya, Ia sendiri yang menjadi pembela, penghibur, dan pembalas yang adil.
Yesus, ketika kebaikanku tidak dianggap, jaga hatiku tetap lembut. Ubah kecewa menjadi doa, ubah lelah menjadi kasih, dan luruskan motifku agar semua kulakukan sebagai persembahan bagi-Mu. Ajari aku setia tanpa menuntut balasan, dan biarlah damai-Mu memerintah di batinku hari ini. Amin.