Pertanyaan ini sangat manusiawi. Kita dibesarkan dengan rasa keadilan: siapa bekerja lebih keras seharusnya menerima lebih banyak. Lalu Injil datang dan berkata bahwa keselamatan adalah anugerah. Wajar jika muncul kebingungan. Apakah Allah adil jika Ia menyelamatkan orang berdosa yang bertobat di detik terakhir sama seperti yang setia sejak awal. Jawaban Alkitab tidak mengecilkan keadilan, justru memperlihatkan keadilan yang dipenuhi dan kasih karunia yang ditawarkan kepada semua. Di salib, Allah tidak menutup mata terhadap dosa dan sekaligus membuka tangan bagi pendosa.
Mengapa Pertanyaan Tentang “Fair” Itu Penting
Rasa keadilan adalah bagian dari gambar Allah pada diri kita. Mazmur 89:14 menggambarkan keadilan dan kebenaran sebagai tumpuan takhta Allah. Karena itu, jika kabar keselamatan tampak mengabaikan keadilan, maka kabar itu terasa asing. Alkitab menolong kita melihat bahwa keadilan ilahi tidak sama dengan rasa adil yang semata berbasis perbandingan manusia, tetapi lebih dalam dan lebih murni.
Keadilan Allah Dipenuhi, Bukan Ditunda
Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Injil tidak menawar standar ini. Lalu bagaimana kita tidak binasa. Allah telah menyatakan Kristus sebagai jalan pendamaian sehingga Ia tetap adil dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus (Roma 3:24-26). Inilah pusat berita Injil. Hukuman tidak dibiarkan menggantung. Hukuman ditanggung oleh Kristus, sehingga keadilan terpenuhi dan belas kasihan dibagikan.
Kasih Karunia Bukan Murah
Jika keselamatan itu anugerah, apakah itu berarti usaha tidak penting. Efesus 2:8-9 menegaskan kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan hasil usaha. Namun ayat berikutnya berkata kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan bagi kita (Efesus 2:10). Anugerah menyelamatkan tanpa syarat, tetapi anugerah yang sama membentuk hidup yang baru. Karena itu, kasih karunia tidak murah. Harganya sangat mahal, dibayar dengan darah Anak Allah.
Kenapa Terlihat Tidak Fair
Yesus menolong dengan perumpamaan tentang pekerja kebun anggur yang menerima upah sama meski jam kerja berbeda (Matius 20:1-16). Dari kacamata perbandingan, itu tampak tidak adil. Namun pemilik kebun bertindak berdasarkan kebaikan dan haknya, bukan ketidakadilan. Ia tidak merugikan yang datang lebih awal, ia hanya murah hati kepada yang datang belakangan. Perumpamaan ini membuka mata bahwa ukuran kerajaan Allah adalah kemurahan hati yang tidak melanggar keadilan. Di hadapan Allah, tidak ada yang berhak menuntut keselamatan sebagai upah. Semua yang diselamatkan menerima karena kemurahan, bukan karena layak.
Apakah Ini Meremehkan Mereka yang Taat Sejak Awal
Tidak. Anugerah yang sama yang menyelamatkan juga memampukan. Mereka yang berjalan lama bersama Kristus menikmati buah pertumbuhan, kedewasaan, dan upah rohani yang tidak dialami oleh yang masih baru. Ketaatan bukan alat membeli keselamatan, melainkan bukti kehidupan baru. Paulus menulis bahwa kasih karunia Allah mendidik kita untuk hidup bijaksana, adil, dan beribadah (Titus 2:11-12). Dengan kata lain, anugerah tidak memotong nilai ketaatan, anugerah melahirkannya.
“Tidak Adil” Bagi Siapa
Sering yang kita sebut “tidak fair” lahir dari pola pikir membandingkan diri dengan orang lain. Injil mengajak kita berhenti menatap kiri kanan dan mulai menatap salib. Di sana kita melihat bahwa tidak seorang pun dirugikan oleh kemurahan Allah. Kita sendiri hidup karena kemurahan yang sama. 2 Petrus 3:9 menyatakan Allah sabar, tidak ingin seorang pun binasa, melainkan semua berbalik. Keselamatan itu fair dalam arti undangannya universal dan biayanya telah lunas dibayar. Yang menolak undanganlah yang akhirnya berdiri di bawah penghakiman, sebab barangsiapa tidak percaya telah berada di bawah hukuman (Yohanes 3:18). Itu bukan karena Allah sewenang-wenang, melainkan karena kebenaran tidak dapat dinegosiasi.
Keadilan dan Belas Kasihan Bertemu di Salib
Ada dua bahaya jika kita memaksa definisi fair versi manusia.
Pertama, kita bisa menurunkan standar kekudusan agar semua terasa setimpal. Maka keadilan runtuh.
Kedua, kita bisa menutup pintu bagi pendosa agar tampak konsisten. Maka kasih karunia padam.
Di salib, Allah memilih jalan ketiga. Ia tetap adil karena dosa dihukum pada Kristus. Ia juga penuh kasih karena pendosa diampuni ketika percaya. Paulus menyimpulkan, bukan kehendak orang atau usaha, melainkan belas kasihan Allah yang menyelamatkan (Roma 9:15-16). Itu bukan ketidakadilan, itu kemuliaan kasih yang lebih tinggi dari kalkulator kita.
Apa Artinya “Fair” Dalam Kerajaan Allah
Fair menurut Injil bukan persamaan prestasi, melainkan kesetiaan Allah pada janji dan keterbukaan undangan kepada semua.
- Undangan yang sama. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga setiap orang yang percaya tidak binasa (Yohanes 3:16).
- Harga yang sama. Tidak ada paket berbeda. Hanya satu harga dan telah lunas di Golgota.
- Buah yang nyata. Mereka yang menerima anugerah akan menampakkan buah pertobatan. Iman yang hidup menghasilkan karya kasih.
- Penghakiman yang adil. Yang menolak tetap menghadapi konsekuensi karena Allah adil. Injil tidak meniadakan penghakiman, Injil menyediakan jalan selamat.
Bagaimana Merespons Jika Hati Masih Berat
Pertama, bawa keberatanmu ke hadapan Allah. Mazmur penuh doa jujur.
Kedua, pandanglah salib sebagai cermin keadilan dan kasih. Ingat Roma 3:24-26.
Ketiga, bersyukurlah bahwa ukuran Allah lebih besar dari milik kita. Jika keselamatan hanya fair menurut rasa manusia, tidak seorang pun akan layak.
Keempat, hiduplah dalam ritme anugerah. Terimalah pengampunan, lalu bagikan kemurahan itu kepada orang lain. Di situ rasa “tidak fair” berubah menjadi syukur yang melimpah.
Penutup
Apakah keselamatan itu fair. Jika yang dimaksud fair adalah pembagian upah berdasarkan prestasi, maka Injil tidak fair. Syukur kepada Allah, karena jika fair seperti itu, semua binasa. Tetapi jika fair berarti keadilan Allah yang dipenuhi di salib dan kemurahan yang ditawarkan setara kepada semua, maka keselamatan sangat fair dan sangat indah. Di Golgota, keadilan dan kasih berpelukan. Undangan itu kini terbuka: datanglah kepada Kristus, terimalah anugerah yang tidak bisa dibeli, dan biarkan Roh Kudus membentuk hidup baru yang berbuah kasih, sukacita, dan penguasaan diri.