Pertanyaan ini jujur dan sering terpendam di hati banyak orang: kalau saya mempertanyakan Tuhan, apakah itu membuat-Nya marah? Apakah bertanya pada-Nya sama dengan kurang iman? Mari kita gali lebih dalam.
Alkitab Penuh dengan Pertanyaan
Jika kita membuka Alkitab, ternyata banyak tokoh iman yang berani bertanya pada Tuhan. Ayub bertanya, “Mengapa aku tidak mati sejak kandungan?” (Ayub 3:11). Habakuk berseru, “Mengapa Engkau membiarkan kelaliman?” (Habakuk 1:3). Bahkan Daud sering menulis di Mazmur, “Sampai berapa lama lagi, ya Tuhan?” (Mazmur 13:2).
Yang menarik, Tuhan tidak langsung menolak atau menghukum mereka karena pertanyaan-pertanyaan itu. Sebaliknya, Tuhan menanggapi, mendidik, bahkan menyingkapkan hal-hal yang lebih dalam. Artinya, pertanyaan bukanlah musuh iman, tetapi bisa menjadi jalan untuk mengenal Tuhan lebih dekat.
Bedanya Bertanya dan Memberontak ✨
Yang perlu dibedakan adalah sikap hati.
- Jika kita bertanya dengan rendah hati, karena ingin mengerti atau sedang jujur dengan luka kita, Tuhan melihat itu sebagai kejujuran.
- Tetapi kalau pertanyaan berubah menjadi sikap menantang, meremehkan, atau menolak kebenaran-Nya, maka itu bisa berubah menjadi pemberontakan.
Yesus sendiri tidak pernah menegur orang yang datang dengan pertanyaan tulus, tetapi Ia tegas terhadap orang Farisi yang bertanya hanya untuk menjebak (Matius 22:18). Jadi, kuncinya bukan sekadar isi pertanyaan, tetapi motivasi hati di baliknya.
Tuhan Tidak Tersinggung oleh Kejujuran Kita
Mazmur 34:19 mengatakan, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.” Artinya, ketika kita datang dengan kejujuran, meski dalam bentuk keluhan atau kebingungan, Tuhan tidak marah. Ia justru dekat.
Bahkan Yesus di kayu salib berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Seruan ini bukan tanda putus iman, tetapi ungkapan pergumulan yang terdalam. Dari sini kita tahu: mempertanyakan Tuhan bukanlah dosa otomatis, melainkan ekspresi relasi yang nyata dengan-Nya.
Pertanyaan Bisa Membawa Pertumbuhan Iman
Pertanyaan seringkali membuka jalan bagi pengertian yang lebih dalam. Contohnya, ketika Maria mendapat kabar dari malaikat bahwa ia akan mengandung, ia bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (Lukas 1:34). Pertanyaan itu tidak membuat Allah marah, justru menjadi pintu bagi penjelasan yang indah tentang karya Roh Kudus.
Kadang Tuhan tidak memberi jawaban langsung, tetapi melalui pertanyaan, Ia mengarahkan hati kita kepada kepercayaan yang lebih dalam. Seperti Ayub, yang pada akhirnya berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5).
Penutup
Apakah Tuhan marah kalau kita mempertanyakan Dia? Tidak, selama pertanyaan itu lahir dari hati yang tulus dan rendah. Tuhan tidak takut dengan pertanyaan kita. Ia jauh lebih peduli pada relasi dan kejujuran kita daripada pada kepura-puraan iman.
Pertanyaan yang jujur bisa menjadi langkah menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Jadi, jangan takut bertanya, biarlah setiap pertanyaan membawa kita semakin dekat, bukan semakin jauh dari-Nya.