Salah satu pertanyaan paling sering dilontarkan oleh para pengkritik Kekristenan adalah: “Yesus tidak pernah secara langsung berkata ‘Aku adalah Tuhan, sembahlah Aku.’ Jadi mengapa orang Kristen menyembah Dia sebagai Tuhan?” Pertanyaan ini terdengar logis di permukaan, tetapi jika kita meneliti Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa Yesus memang berulang kali mengklaim keilahian-Nya, meski tidak selalu dengan kalimat yang diharapkan manusia modern.
Cara Yesus Menyatakan Keilahian-Nya
Yesus hidup dalam konteks budaya Yahudi abad pertama. Dalam tradisi Yahudi, menyebut diri sebagai Tuhan secara langsung akan dianggap hujat dan segera menimbulkan penolakan keras. Maka, Yesus memakai bahasa, simbol, dan tindakan yang sangat jelas dimengerti orang Yahudi pada waktu itu.
Mengampuni Dosa
Dalam Markus 2:5-7, Yesus berkata kepada seorang lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Para ahli Taurat langsung menuduh-Nya menghujat: “Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Artinya, orang Yahudi mengerti bahwa Yesus sedang mengklaim otoritas Allah.
Menyebut Diri “Aku Ada”
Dalam Yohanes 8:58 Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku ada.” Ungkapan “Aku ada” (Ego Eimi) merujuk pada nama Allah yang diwahyukan kepada Musa dalam Keluaran 3:14: “AKU ADALAH AKU.” Orang Yahudi yang mendengar ini langsung mengambil batu untuk melempari-Nya, karena mereka memahami klaim itu sebagai penyataan diri Yesus sebagai Tuhan.
Menyamakan Diri dengan Bapa
Dalam Yohanes 10:30 Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Reaksi orang Yahudi sangat jelas: mereka hendak melempari-Nya karena menganggap Yesus “menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yohanes 10:33).
Menerima Penyembahan
Berbeda dengan malaikat yang selalu menolak disembah (Wahyu 22:8-9), Yesus menerima penyembahan tanpa menegur. Misalnya, ketika orang buta disembuhkan lalu menyembah-Nya (Yohanes 9:38) atau setelah kebangkitan ketika murid-murid sujud di hadapan-Nya (Matius 28:9, 17). Jika Yesus hanyalah manusia biasa, menerima penyembahan akan menjadi dosa besar.
Mengaku sebagai Anak Allah dalam Sidang Mahkamah
Ketika ditanya oleh Imam Besar apakah Dia Mesias, Anak Allah, Yesus menjawab, “Engkau telah mengatakannya. Tetapi Aku berkata kepadamu: mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Ucapan ini mengutip nubuat Daniel 7:13-14 tentang “Anak Manusia” yang menerima kuasa kekal. Reaksi Imam Besar? Ia merobek jubahnya dan menuduh Yesus menghujat.
Mengapa Yesus Tidak Mengatakan “Aku Tuhan” Secara Lugas?
Bila Yesus sekadar berkata, “Aku Tuhan,” banyak orang Yahudi akan langsung menolak tanpa mau mendengarkan pelayanan-Nya. Yesus memilih menyatakan identitas-Nya lewat:
- perkataan yang penuh makna bagi orang Yahudi,
- tindakan yang hanya bisa dilakukan Allah,
- nubuat yang digenapi dalam diri-Nya.
Dengan cara ini, orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran akan mengerti, sementara mereka yang hatinya keras akan tetap menolak.
Penutup
Jadi, klaim bahwa Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan tidaklah benar. Yesus memang tidak memakai kalimat modern seperti “Aku adalah Tuhan, sembahlah Aku,” tetapi melalui perkataan, tindakan, dan respons orang Yahudi saat itu, jelas bahwa Ia mengklaim keilahian-Nya.
Yesus tidak hanya seorang guru atau nabi, tetapi Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14). Pertanyaan sebenarnya adalah: apakah kita percaya kepada klaim-Nya dan berani menyembah-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat?