Di dunia yang bising, kita mudah terdorong menilai diri dari tepuk tangan atau cibiran. Saat dipuji, hati mengembang. Saat dikritik, hati mengerut. Padahal keduanya bisa sama berbahayanya bila menjadi pusat nilai diri. Pujian dapat membuat kita lupa diri, celaan dapat membuat kita kehilangan diri. Alkitab mengingatkan, “Peleburan adalah untuk perak dan dapur untuk emas, orang diuji oleh pujannya” (Amsal 27:21). Pujian adalah ujian, demikian juga kritik. Keduanya mengungkap di mana hati berlabuh.
Yesus mengekspos bahaya mencari validasi manusia. “Mereka lebih suka akan kehormatan dari manusia daripada kehormatan dari Allah” (Yohanes 12:43). Ketika pujian menjadi bahan bakar, pelayanan berubah menjadi panggung dan ketaatan berubah menjadi strategi citra. Hati yang melekat pada penilaian manusia akan terus letih, sebab standar manusia bergeser dan tidak pernah selesai. Paulus menawarkan kompas lain: “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Galatia 1:10).
Bagaimana memiliki hati yang teduh, tidak terombang-ambing oleh puji atau cela?
Pertama, tetapkan sumber nilai. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Ketika pusat kerja kita adalah Tuhan, hasilnya kita semakin bebas dari kebutuhan membuktikan diri. Kita tetap menerima umpan balik, tetapi tidak diperbudak olehnya. Kita menghargai pujian sebagai dorongan, bukan sebagai pondasi.
Kedua, pelihara hati yang rendah. Mazmur mengajarkan sikap batin yang hening, “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku” (Mazmur 131:2). Rendah hati tidak berarti menolak pujian, melainkan mengembalikannya kepada Sumber segala kebaikan. Saat orang memuji, kita berkata dalam hati, “Terima kasih, Tuhan.” Saat orang mencela, kita bertanya, “Tuhan, ada apa yang perlu dibetulkan?” Lalu melanjutkan langkah dengan damai.
Ketiga, jadikan penilaian Allah sebagai hakim terakhir. Paulus menulis, “Bagiku sangat kecil artinya, kalau aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Yang menghakimi aku ialah Tuhan” (1 Korintus 4:3-4). Ini bukan anti-kritik, melainkan keberanian untuk menimbang suara manusia dalam terang suara Tuhan. Umpan balik yang benar kita terima, yang keliru kita lepaskan, semua dengan hati yang bersandar pada Pribadi yang mengenal kita sepenuhnya.
Keempat, teladani hati Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Yesus tidak mencari sorak massa, Ia setia pada kehendak Bapa, bahkan ketika celaan datang silih berganti. Hati yang meniru Kristus akan semakin stabil, sebab ukurannya adalah ketaatan, bukan popularitas.
Praktiknya sederhana dan harian. Saat dipuji, berdoalah singkat, “Kemuliaan untuk-Mu, ya Tuhan.” Saat dikritik, berdoalah, “Tunjukkan apa yang benar untuk aku ubah.” Tulislah dua daftar kecil: apa yang perlu disyukuri dari pujian, apa yang perlu diperbaiki dari kritik. Lalu jalani keduanya dalam keheningan yang setia. Hati yang berlabuh pada Allah akan tetap teduh, meski ombak komentar datang bergiliran.
Akhirnya, kita tidak bisa mengontrol apa kata orang, namun kita bisa memilih ke mana hati melekat. Ketika hati menambat pada perkenanan Allah, pujian tidak memabukkan dan celaan tidak melumpuhkan. Kita tetap berbuah, bekerja sungguh-sungguh, dan berjalan ringan karena tahu Bapa sudah mengenal, menerima, dan membentuk kita setiap hari.
Bapa, tetapkan hati kami pada perkenanan-Mu. Bebaskan kami dari keterikatan pada pujian dan kepahitan karena celaan. Ajari kami menerima umpan balik dengan rendah hati, memperbaiki yang perlu, dan mengembalikan semua kemuliaan kepada-Mu. Dalam nama Yesus, amin.