Tidak sulit untuk mengasihi orang yang juga mengasihi kita. Tetapi bagaimana ketika kita diminta untuk mengasihi mereka yang tidak pernah membalas kasih kita, bahkan mungkin menyakiti atau menjauhkan diri dari kita? Inilah salah satu ajaran paling menantang dari Yesus, sekaligus bukti nyata dari kedewasaan rohani: kasih yang tidak bersyarat.
Yesus berkata dalam Lukas 6:32-33, “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?” Dengan kata lain, kasih sejati bukan diukur dari timbal baliknya, tetapi dari kesediaan untuk tetap mengasihi meski tidak dihargai.
Mudah untuk merasa kecewa ketika kasih kita tidak dibalas. Kita merasa sia-sia, capek, atau bahkan marah. Tapi mari kita ingat bahwa Tuhan pun sering tidak menerima balasan yang sepadan dari umat-Nya, namun Ia tetap setia mengasihi. Dalam Roma 5:8 dikatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Itu artinya Tuhan mengasihi kita bukan setelah kita bertobat, tetapi ketika kita masih menolak dan melawan Dia.
Jadi ketika kita mengasihi orang yang tidak mengasihi balik, kita sebenarnya sedang mencerminkan kasih Kristus. Kita sedang menunjukkan bahwa kasih kita tidak bersumber dari perasaan atau perlakuan orang lain, tetapi dari hubungan kita dengan Tuhan.
Bukan berarti kita harus terus membiarkan diri disakiti atau diabaikan, tapi kita dipanggil untuk menjaga hati agar tetap bersih dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam Roma 12:20-21, Paulus menasihati, “Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum… Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
Mengasihi tanpa pamrih bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Karena hanya mereka yang memiliki kasih Kristus di dalam hatinya yang bisa tetap memberi meski tidak menerima apa-apa kembali. Tuhan, bantu aku mengasihi bukan karena pantas atau tidaknya seseorang, tapi karena Engkau lebih dulu mengasihiku. Beri aku hati yang penuh belas kasih, bahkan kepada mereka yang tidak membalas kebaikanku. Amin.