Sebelum dikenal sebagai rasul, Saulus adalah penganiaya jemaat. Ia setuju atas pembunuhan Stefanus dan “membuat ancaman pembunuhan” terhadap murid-murid Tuhan (Kisah Para Rasul 8:1; 22:20; 9:1). Di jalan menuju Damsyik, Yesus menemuinya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku” lalu memberi arah baru bagi hidupnya (Kisah Para Rasul 9:4-6). Di sini kita belajar bahwa anugerah tidak hanya mengampuni masa lalu, anugerah juga mengalihkan arah masa depan.
Ananias sempat ragu, tetapi Tuhan berkata, “Ia adalah alat pilihan-Ku” (Kisah Para Rasul 9:15). Saulus dibaptis, dipulihkan, dan segera memberitakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Gereja menerimanya melalui keberanian Barnabas yang menjembatani kepada para rasul (Kisah Para Rasul 9:26-27). Transformasi bukan sekadar perubahan citra, melainkan lahirnya ketaatan baru yang konsisten. Paulus merangkum kisahnya begini: “Aku yang tadinya penghujat dan penganiaya… telah dikasihani” agar di dalam dirinya Kristus menunjukkan kesabaran-Nya bagi orang lain (1 Timotius 1:13-16).
Apakah masa lalumu menutup mulutmu, padahal Allah ingin memakainya sebagai megafon kasih karunia? Paulus yang dulu menghancurkan iman, kini “memberitakan iman yang dahulu hendak dibinasakannya” dan orang memuliakan Allah karena dia (Galatia 1:23-24). Kasih karunia tidak menghapus sejarah, tetapi menulis ulang arah. Karena itu ia berkata, “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” (1 Korintus 15:10). Dan bukan hanya berubah, ia juga setia pada panggilan: “Aku tidak pernah tidak taat kepada penglihatan surgawi” (Kisah Para Rasul 26:19).
Paulus juga mengubah cara menghitung nilai hidup. “Segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku” (Filipi 3:7-8). Ia menukar gengsi masa lalu dengan kemuliaan mengenal Kristus. Inilah inti Injil dalam dirinya: “Barangsiapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Yang lama tidak lagi menjadi identitas, hanya menjadi latar bagi kesaksian tentang kuasa Allah. Maka wajar jika ia berkata, “Aku tidak malu akan Injil” (Roma 1:16).
Bagaimana kita berjalan di jejak Paulus, dari rasa bersalah menjadi saksi, dari penonton menjadi pemberita?
- Akui siapa dirimu dan kepada siapa engkau sekarang menjadi milik. Ucapkan 1 Korintus 15:10 sebagai kompas. Identitas mendahului aktivitas.
- Taat pada terang pertama sebelum menuntut peta lengkap. Paulus berdiri, dibaptis, dan mulai bersaksi segera setelah dipulihkan. Pegang Kisah Para Rasul 9:18-20. Langkah kecil yang taat membuka pintu berikutnya.
- Biarkan komunitas meneguhkan dan menajamkan. Terimalah peran “Barnabas” di hidupmu dan jadilah Barnabas bagi orang lain. “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu” (Galatia 6:2). Panggilan bertahan lama ketika dijaga bersama.
- Ubah sistem nilai. Takar keputusan dengan Filipi 3:7-8. Apakah pilihan ini membuatku lebih mengenal Kristus dan memuliakan-Nya.
- Saksikan Injil dari cerita yang paling kamu kenal. Ceritakan bagaimana Tuhan menangkapmu dan apa yang Ia ubah. Paulus berulang kali menceritakan Damsyiknya sendiri (Kisah Para Rasul 22; 26). Kesaksian yang jujur membuka telinga yang tertutup.
- Tetap rendah hati. Ingat 1 Timotius 1:15. Kerendahan hati menjaga kuasa Injil tetap pusat, bukan kehebatan pembawa.
- Pelihara ketaatan harian. “Aku tidak pernah tidak taat kepada penglihatan surgawi” menjadi ritme, bukan momen sesaat. Kesetiaan kecil hari ini adalah bahasa kasih kepada Kristus.
Apakah kamu percaya bahwa Allah yang mengubah Saulus menjadi Paulus juga sanggup mengubah arah hidupmu dan memakainya bagi banyak orang? Jangan menunda karena luka lama atau label orang. Datanglah apa adanya. Serahkan masa lalu kepada salib, terimalah identitas baru, dan mulailah melangkah dengan taat. Ketika kamu berpegang pada Injil, Allah sendiri yang mengubah sejarahmu menjadi panggung bagi kemuliaan-Nya.
Yesus, terima kasih untuk kasih karunia yang menemukan aku. Sucikan hatiku, pulihkan pikiranku, dan jadikan aku alat pilihan-Mu. Ajari aku taat pada terang hari ini, berani bersaksi dengan rendah hati, dan setia pada penglihatan surgawi yang Engkau berikan. Biarlah hidupku memuliakan Engkau hingga akhir. Amin.