Empat Injil, Empat Perspektif
Dalam Perjanjian Baru, kita mengenal empat kitab Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Masing-masing menyampaikan kisah tentang kehidupan, ajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus dari sudut pandang yang berbeda. Tapi siapa sebenarnya yang menulis keempat Injil ini? Apakah benar mereka ditulis oleh orang yang namanya tercantum pada judul kitab? Atau ada kemungkinan lain?
1. Injil Matius: Ditulis oleh Seorang Pemungut Cukai
Tradisi Kristen kuno mengaitkan Injil ini dengan Matius, salah satu dari dua belas murid Yesus yang dulunya adalah pemungut cukai (Matius 9:9). Injil ini banyak mengutip nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama, menunjukkan bahwa penulisnya akrab dengan konteks Yahudi. Karena itu, banyak ahli percaya Injil ini ditujukan kepada pembaca Yahudi untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Namun, Injil ini tidak menyebutkan nama penulis secara langsung. Atribusi kepada Matius baru muncul dari tulisan-tulisan gereja mula-mula, seperti Papias dan Irenaeus. Walaupun demikian, para sarjana modern tetap berbeda pendapat: beberapa menerima tradisi tersebut, sementara yang lain menganggap Injil ini ditulis oleh komunitas yang mengikuti ajaran Matius.
2. Injil Markus: Kesaksian Petrus yang Dicatat Markus
Markus bukanlah murid Yesus yang disebut dalam daftar dua belas rasul, tapi ia adalah rekan pelayanan Paulus dan Barnabas (Kisah Para Rasul 12:12) serta anak rohani dari rasul Petrus (1 Petrus 5:13). Menurut tradisi gereja awal, Markus menulis Injil berdasarkan kesaksian langsung dari Petrus. Papias mengatakan bahwa Markus mencatat dengan akurat semua yang Petrus sampaikan tentang Yesus, meskipun tidak selalu dalam urutan kronologis.
Karena Injil Markus adalah yang terpendek dan paling lugas, banyak sarjana percaya bahwa Injil ini adalah yang pertama ditulis dan menjadi sumber bagi Matius dan Lukas dalam penulisan mereka.
3. Injil Lukas: Ditulis oleh Seorang Dokter Non-Yahudi
Lukas adalah penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Ia dikenal sebagai dokter (Kolose 4:14) dan teman seperjalanan Paulus. Injil Lukas ditulis untuk seseorang bernama Teofilus (Lukas 1:3), dan menekankan sisi kemanusiaan Yesus serta kepedulian-Nya kepada orang miskin, terpinggirkan, dan bangsa-bangsa non-Yahudi.
Lukas sendiri kemungkinan besar bukan saksi mata kehidupan Yesus, tetapi ia menyelidiki dengan seksama dan mewawancarai para saksi langsung (Lukas 1:1-4). Gaya penulisannya halus dan rapi, mencerminkan latar belakang pendidikannya yang tinggi.
4. Injil Yohanes: Dikenal Sebagai Injil Rohani
Berbeda dengan tiga Injil lainnya (disebut Injil Sinoptik), Injil Yohanes memiliki gaya dan struktur yang unik. Tradisi gereja sejak awal mengaitkan Injil ini dengan rasul Yohanes, “murid yang dikasihi Yesus” (Yohanes 13:23). Ia menyajikan Yesus dengan penekanan yang kuat pada identitas ilahi-Nya, seperti dalam kalimat terkenal: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).
Meski tidak disebutkan secara eksplisit bahwa Yohanes adalah penulisnya, ayat Yohanes 21:24 memberikan petunjuk kuat bahwa Injil ini berdasarkan kesaksian langsung sang murid yang dekat dengan Yesus.
Jadi, Siapa Penulis Aslinya?
Secara historis, gereja awal menerima bahwa keempat Injil ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes baik langsung maupun melalui murid-murid mereka. Meskipun para sarjana modern mempertimbangkan kemungkinan bahwa Injil-injil tersebut ditulis atau disunting oleh komunitas-komunitas tertentu, tidak ada bukti kuat untuk menggugurkan atribusi tradisional secara mutlak.
Yang terpenting, isi keempat Injil tetap konsisten dalam menyampaikan siapa Yesus: Tuhan yang datang sebagai manusia untuk menyelamatkan dunia.