Ketika sakit datang, pintu tertutup, atau relasi retak, refleks kita sering sama: mengusir setan, menolak, lalu bertanya mengapa. Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua penderitaan bersumber dari setan. Ada penderitaan karena dunia yang telah jatuh, ada karena pilihan manusia, ada karena disiplin Bapa, ada juga karena panggilan untuk bertumbuh dalam ketekunan. Yesus sendiri menegaskan saat murid bertanya tentang orang buta sejak lahir, “Bukan karena dosa orang ini atau dosa orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:1-3). Artinya, tidak setiap derita adalah hukuman, banyak di antaranya adalah kanvas bagi karya Allah.
Yakobus menempatkan penderitaan dalam bingkai pembentukan, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1:2-4). Paulus mengalami duri yang tidak segera diangkat, dan ia mendengar jawaban ini, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:7-9). Terkadang Tuhan tidak menyingkirkan beban, Ia menambahkan bahu untuk memikulnya dengan anugerah. Ibrani juga berkata, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya” dan mengundang kita menafsirkan disiplin sebagai bukti kita anak, bukan bukti kita ditolak (Ibrani 12:6-7).
Petrus mengingatkan agar kita tidak heran terhadap nyala api pencobaan, melainkan bersukacita karena mendapat bagian dalam penderitaan Kristus (1 Petrus 4:12-13). Penderitaan bukan selalu tanda salah jalan. Sering kali justru tanda kita berjalan di jalan sempit bersama Yesus. Di atas semuanya itu berdiri janji yang kokoh: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Allah tidak menjadi sumber kejahatan, namun Ia Mahakuasa menenun ulang akibatnya bagi kebaikan kekal.
Lalu bagaimana membedakan tanggapan kita di dalam derita?
Apakah ini panggilan untuk bertobat atau bertahan? Jika Roh menyingkap dosa, bergeraklah cepat. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil” (1 Yohanes 1:9). Kejujuran membuka pintu pemulihan. Jika tidak ada dosa spesifik, lanjutkan dengan ketekunan dan doa.
Apakah ini disiplin Bapa yang menguduskan motivasi? Ibrani 12:6-7 menegaskan kasih di balik hajaran. Disiplin bukan penghancuran, melainkan penataan ulang arah hati.
Apakah ini latihan untuk memperdalam ketekunan? Yakobus 1:2-4 menunjukkan targetnya: kedewasaan. Ketekunan adalah otot iman yang hanya tumbuh ketika dipakai.
Apakah ini panggilan untuk menanggung bersama Kristus dan menjadi saksi? “Jika kamu dicela karena nama Kristus, kamu berbahagia” (1 Petrus 4:14). Kadang yang Tuhan ubah terlebih dulu bukan situasi, melainkan kita yang menghadapi situasi.
Langkah praktis di tengah badai:
Mintalah hikmat, bukan hanya jalan pintas. “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah” (Yakobus 1:5). Hikmat menolong kita tahu kapan bertobat, kapan bertahan, kapan berbicara, kapan diam.
Pegang firman sebagai jangkar harian. Hafalkan satu ayat untuk musim ini. Roma 8:28 atau 2 Korintus 12:9 dapat menjadi pegangan saat hati berdenyut.
Biarkan damai Kristus menjadi wasit. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu” (Kolose 3:15). Jika keputusan mengikis damai, tunda dan cari wajah Tuhan.
Bertolong-tolonglah menanggung beban. “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu” (Galatia 6:2). Derita yang dibagikan sering kehilangan gigitannya.
Kerjakan ketaatan kecil hari ini. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku” (Mazmur 119:105). Pelita menerangi selangkah demi selangkah, cukup untuk maju tanpa panik.
Apakah mungkin deritamu hari ini bukan musuh yang harus segera dilenyapkan, melainkan guru yang Tuhan izinkan untuk memperdalam kasih dan keteguhanmu? Jika ya, berhentilah sejenak untuk bernafas. Alihkan pandang dari “mengapa” ke “untuk apa”. Di ruang itulah kita sering mendapati Kristus duduk bersama, bukan di ujung jalan, melainkan di tengah jalan.
Bapa, ajari kami membedakan sumber dan maksud penderitaan yang kami alami. Beri kami hikmat untuk bertobat ketika salah, ketekunan untuk bertahan ketika dilatih, dan damai untuk berjalan bersama-Mu. Penuhi kami dengan anugerah-Mu yang cukup dan jadikan derita kami ladang di mana karakter Kristus bertumbuh. Amin.