Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sangat menampar realitas hidup kita hari ini. Dalam keseharian yang sibuk, target yang harus dikejar, dan segala fasilitas digital yang memudahkan hidup, apakah kita masih sungguh-sungguh bergantung pada Tuhan?
Ketergantungan rohani bukan sekadar soal doa saat butuh. Itu soal posisi hati yang terus melekat pada Tuhan, baik dalam kesesakan maupun kelimpahan. Amsal 3:5 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Masalahnya, semakin kita merasa mampu, semakin kita lupa siapa yang memberi kemampuan itu.
Tanda bahwa kita mulai tidak bergantung pada Tuhan bisa muncul halus: kita jarang berdoa, mengandalkan logika dan pengalaman sendiri, hanya datang kepada Tuhan kalau mentok. Kita pikir kita mengontrol hidup ini, padahal tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).
Yesus memberikan gambaran yang kuat: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.” (Yohanes 15:5) Artinya, hubungan kita dengan Tuhan bukan sekadar formalitas, tetapi sumber hidup. Jika ranting terputus dari pokoknya, ranting itu akan kering dan mati.
Sering kali Tuhan izinkan kesulitan terjadi bukan untuk menghukum, tapi untuk membawa kita kembali bersandar pada-Nya. Ketika semua cara manusia gagal, barulah kita berseru. Tapi alangkah indahnya jika kita belajar bergantung bahkan di masa tenang, bukan hanya saat badai.
Ketergantungan pada Tuhan bukan kelemahan, melainkan kekuatan sejati. Itu menunjukkan kerendahan hati dan iman yang dewasa. Dunia mungkin menyuruh kita mandiri dan mengandalkan diri sendiri, tapi Kerajaan Allah mengajarkan yang sebaliknya: semakin bergantung pada Tuhan, semakin kuat hidup kita.
Maka mari kita tanyakan jujur ke dalam hati: Apakah aku masih bergantung pada Tuhan, atau hanya mengandalkan diriku sendiri? Biarlah hidup kita setiap hari mencerminkan iman yang hidup, bukan sekadar pengakuan di bibir.