“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)
Salah satu ujian iman terbesar dalam hidup orang percaya bukan terletak pada penderitaan, melainkan pada siapa yang menjadi andalan saat kita bisa memilih. Di tengah peluang besar, keputusan penting, atau jalan hidup yang nyaman, apakah kita sungguh mengandalkan Tuhan, atau justru mengandalkan kemampuan, logika, dan koneksi pribadi?
Terkadang kita memang terlihat “rohani”, tapi secara tak sadar kita hanya menjadikan Tuhan sebagai cadangan, bukan andalan. Kita berdoa, tapi tetap memaksakan jalan kita. Kita meminta tuntunan, tapi diam-diam sudah punya keputusan sendiri.
Mengandalkan Tuhan berarti rela melepaskan kendali. Kita percaya bahwa kehendak-Nya lebih tinggi dari rencana kita. Mengandalkan Tuhan juga berarti kita siap dituntun ke jalan yang tidak selalu paling nyaman, tapi selalu paling benar menurut-Nya.
Lihat bagaimana Daud berkali-kali bertanya kepada Tuhan sebelum bertindak (1 Samuel 23:2, 4). Bahkan sebagai seorang raja, ia tahu kekuatan sejatinya bukan pada pasukan atau strategi, tetapi pada penyertaan Tuhan.
Pertanyaannya sekarang: Apakah kita benar-benar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, atau hanya sebagian? Apakah kita bersandar kepada pemahaman sendiri saat menghadapi tekanan hidup, atau sungguh menanti jawaban dari-Nya?
Saat hidup terasa berat atau keputusan terasa rumit, itulah momen terbaik untuk menguji andalan hati kita. Apakah kita berpaut kepada Tuhan, atau pada diri sendiri?