Pertanyaan ini sering muncul di kalangan jemaat maupun pelayan Tuhan: apakah seseorang yang dipanggil menjadi hamba Tuhan wajib sekolah teologi? Atau bisakah seseorang melayani Tuhan sepenuhnya tanpa gelar teologi?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Mari kita bahas dari beberapa sudut pandang.
1. Sekolah Teologi Bukan Syarat Mutlak, Tapi Bisa Menjadi Berkat
Alkitab menunjukkan bahwa banyak tokoh dipakai Tuhan tanpa latar pendidikan formal keagamaan. Petrus, Yohanes, dan beberapa rasul dikenal sebagai nelayan dan orang biasa (Kisah Para Rasul 4:13). Namun mereka diubahkan karena mereka “pernah bersama Yesus”. Artinya, kedekatan pribadi dengan Kristus adalah fondasi utama dalam pelayanan, bukan sekadar gelar atau institusi.
Namun, sekolah teologi dapat menjadi alat penting untuk memperlengkapi seseorang memahami firman Tuhan secara benar, menghindari ajaran sesat, dan belajar menggembalakan jemaat dengan bijak. Seperti Paulus yang sangat terdidik dalam hukum Taurat dan dipakai Tuhan secara luar biasa, pendidikan teologi bisa menjadi sarana yang Tuhan pakai, asal disertai kerendahan hati dan ketergantungan pada Roh Kudus.
2. Yang Terpenting: Panggilan Tuhan dan Karakter Ilahi
Banyak orang merasa “dipanggil” jadi hamba Tuhan, tetapi penting untuk menguji panggilan itu, bukan hanya berdasarkan emosi sesaat atau keinginan pribadi. Seorang hamba Tuhan perlu menunjukkan karakter yang sesuai dengan kriteria Alkitab (1 Timotius 3:1-7), seperti hidup yang tak bercacat, mampu mengajar, dan mengelola keluarganya dengan baik.
Sekolah teologi tidak bisa menggantikan karakter. Gelar M.Th tidak menjamin hati yang rendah hati, kasih terhadap domba-domba Tuhan, atau kesetiaan saat tidak ada yang melihat. Pelayanan yang sejati lahir dari relasi yang intim dengan Tuhan.
3. Pelayanan Nyata Tidak Bergantung pada Sertifikat
Ada banyak hamba Tuhan di pedalaman, di desa-desa, atau bahkan di negara-negara tertutup yang tidak pernah mengecap pendidikan formal, tetapi mereka dipakai luar biasa karena kesetiaan dan kedalaman relasi mereka dengan Tuhan. Mereka mungkin tidak tahu bahasa Yunani atau Ibrani, tetapi mereka punya hati yang taat dan pengurapan dari Roh Kudus.
Namun, untuk konteks perkotaan atau pelayanan yang lebih luas seperti mengajar, membina hamba-hamba Tuhan lain, atau menulis buku rohani, pendidikan teologi bisa sangat membantu untuk menjaga ketepatan doktrin dan pendekatan pelayanan yang sehat.
Kesimpulan: Perlu Sekolah Teologi? Tidak Wajib, Tapi Sangat Berguna
Hamba Tuhan tidak diharuskan sekolah teologi untuk melayani, tetapi jika ada kesempatan dan panggilan Tuhan ke sana, itu adalah anugerah besar. Namun yang terpenting tetaplah hati yang taat, karakter Kristus yang nyata, dan ketergantungan mutlak pada pimpinan Roh Kudus.
Sekolah teologi bisa melatih otak, tapi hanya Roh Kudus yang bisa membentuk hati.