1
“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?
2
Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,
3
demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.
4
Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.
5
Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.
6
Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.
7
Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.
8
Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.
9
Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.
10
Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
11
Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.
12
Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku?
13
Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku,
14
maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal,
15
sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.
16
Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.
17
Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan Kauperhatikan,
18
dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?
19
Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?
20
Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?
21
Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku, dan tidak menghapuskan kesalahanku? Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.”
ππ°οΈπ¬ Ringkasan Ayub 7 β Ratapan Langsung kepada Tuhan: βMengapa Engkau Mengawasiku?β
Dalam Ayub 7, Ayub berpaling dari sahabatnya dan berbicara langsung kepada Tuhan. Ia mengungkapkan penderitaan fisik dan batin yang dalam, serta mempertanyakan mengapa Tuhan begitu memperhatikannya β bukan untuk menyelamatkan, tetapi seolah-olah untuk menghukumnya. Ini adalah salah satu bagian paling jujur dan mentah dari kitab Ayub, menunjukkan bahwa kejujuran dalam doa adalah bagian dari iman, bukan bukti pemberontakan.
π 1. Hidupku Tidak Lebih Baik dari Pekerja yang Letih (ayat 1β6)
β‘οΈ Ayub membandingkan hidupnya dengan buruh dan budak:
βBukankah manusia harus bergumul di bumi, seperti budak yang rindu bayangan?β
β‘οΈ Malam-malamnya penuh gelisah dan penyakit kulit, siang harinya penuh kesia-siaan
β‘οΈ Ia berkata:
βHari-hariku berlalu lebih cepat dari torak tukang tenunβ β artinya: begitu cepat dan hampa
π― Ayub merasa hidup tanpa harapan dan tanpa istirahat β secara fisik maupun rohani.
π 2. Permohonanku: Biarkan Aku Tenang! (ayat 7β10)
β‘οΈ Ayub tahu hidupnya sebentar lagi akan habis:
βHidupku hanya hembusan nafas.β
β‘οΈ Ia meminta:
βPalingkanlah wajah-Mu, agar aku dapat bersukacita barang sebentar sajaβ¦β
β‘οΈ Ia menggambarkan kematian sebagai tempat tanpa kembali, tanpa kesadaran
π― Ia tidak mempertanyakan eksistensi Tuhan β ia hanya memohon kelegaan sebelum ajal.
π 3. Tuhan, Mengapa Engkau Mengawasiku Terus? (ayat 11β21)
β‘οΈ Ayub berkata:
βAku tidak akan menahan mulutkuβ¦β
β‘οΈ Ia mempertanyakan:
βApa artinya manusia, sehingga Engkau begitu memperhatikannya?β
β‘οΈ Ia merasa Tuhan mengintainya, tidak untuk menyelamatkan, tapi seolah-olah untuk menjeratnya
β‘οΈ Ia berkata:
βMengapa tidak Engkau ampuni aku dan menghapus dosaku?β
π― Ayub mulai bertanya: Apakah Tuhan bersikap adil? Tapi bukan dalam pemberontakan, melainkan dari tempat kejujuran dan luka yang dalam.
π Pengajaran Utama
- Tuhan tidak takut terhadap kejujuran doa kita β bahkan doa yang kelam
- Penderitaan bisa membuat seseorang merasa seolah-olah Tuhan adalah musuh, padahal Tuhan tetap dekat
- Manusia adalah rapuh, dan terkadang hanya ingin penghiburan dan penjelasan
- Ratapan bukan dosa β itu bisa menjadi bentuk relasi terdalam dengan Tuhan
β¨ Makna Spiritualitas (Perjanjian Baru)
π Ibrani 4:15
βKita mempunyai Imam Besar… yang turut merasakan kelemahan kita.β
β‘οΈ Yesus mengerti ratapan Ayub, karena Ia sendiri pernah menangis dalam penderitaan
π Matius 27:46
βAllah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?β
β‘οΈ Yesus mengutip ratapan seperti Ayub, menunjukkan kejujuran spiritual itu sah
π Mazmur 103:14
βSebab Ia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita debu.β
β‘οΈ Tuhan tidak asing terhadap kelemahan kita
π Roma 8:26
βRoh membantu kita dalam kelemahan kita…β
β‘οΈ Bahkan ketika Ayub tidak bisa berdoa dengan kata-kata baik, Tuhan tetap hadir
ποΈ βBukankah manusia harus bergumul di bumi seperti budak?β β Ayub 7:1
ποΈ βHidupku hanya hembusan nafas.β β Ayub 7:7
ποΈ βApa artinya manusia, sehingga Engkau memperhatikannya?β β Ayub 7:17
ποΈ βMengapa tidak Engkau ampuni aku dan menghapus dosaku?β β Ayub 7:20β21