Pertanyaan tentang bagaimana menyebut nama Allah di Perjanjian Lama selalu menarik: haruskah kita mengucapkannya “Yahweh”, “Yehovah”, atau tidak menyebutnya sama sekali dan cukup berkata “Tuhan” atau “Allah”? Mari kita lihat apa yang Alkitab dan sejarah penafsirannya katakan, lalu menarik prinsip praktis untuk hidup beriman hari ini.
1. YHWH: Nama Pribadi yang Diwahyukan
Dalam Keluaran 3:14-15, Allah menyatakan diri kepada Musa: “AKU ADALAH AKU” lalu berkata, “Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu; itulah nama-Ku untuk selama-lamanya.” YHWH (empat huruf Ibrani: Yod He Waw He) adalah nama perjanjian yang menegaskan bahwa Allah itu hadir, setia, dan bekerja dalam sejarah umat-Nya.
Jadi, YHWH bukan sekadar gelar, tetapi nama yang menegaskan karakter dan komitmen Allah.
2. Mengapa Banyak Orang Yahudi Tidak Mengucapkannya?
Dalam tradisi Yahudi, nama YHWH dianggap sangat kudus untuk diucapkan. Mereka menggantinya dengan Adonai (Tuhan) atau menyebut-Nya HaShem (Sang Nama). Kebiasaan ini bertujuan menjaga agar nama Allah tidak dipakai sembarangan, sejalan dengan perintah “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan” (Keluaran 20:7).
Ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke bahasa Yunani (Septuaginta), YHWH umumnya diganti dengan “Kyrios” (Tuhan). Tradisi ini berlanjut sampai kini dalam banyak terjemahan Alkitab modern: YHWH dituliskan TUHAN dengan huruf besar semua (misalnya Mazmur 8:1), untuk membedakannya dari Adonai yang biasa ditulis “Tuhan”.
3. Dari “Yehovah” ke “Yahweh”: Mana yang Tepat?
Bentuk “Yehovah” (Jehovah) muncul ketika huruf-huruf YHWH “disisipkan” vokal dari kata Adonai oleh para ahli Masora, agar pembaca mengucapkan Adonai, bukan YHWH. Banyak sarjana modern menilai “Yahweh” lebih dekat dengan pelafalan aslinya, berdasarkan bukti filologis dan kesaksian sejarah. Namun, Alkitab sendiri tidak meninggalkan petunjuk vokal aslinya, sehingga tidak ada kepastian absolut.
Artinya, menyebut “Yahweh” adalah upaya rekonstruksi ilmiah yang cukup kuat, tetapi tidak wajib secara dogmatis.
4. Apakah Orang Kristen Harus Mengucapkan “Yahweh”?
Perjanjian Baru menunjukkan fokus yang kuat pada Yesus sebagai Tuhan (Kyrios). Doa Yesus mengajarkan, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu” (Matius 6:9). Yohanes 17:6 berkata, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang…” Penekanan utamanya adalah menguduskan nama Allah melalui hidup yang taat, bukan pada teknis pengucapan satu bentuk tertentu.
Maka, orang Kristen boleh memakai “Yahweh”, boleh juga berkata “TUHAN” atau “Allah”, selama hati dan hidupnya menghormati Dia. Roma 10:9 menegaskan pusat pengakuan iman kita: “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan (Kyrios)…” Ini menunjukkan bahwa pengakuan ketuhanan Kristus merupakan inti penyembahan gereja mula-mula.
5. Prinsip Praktis: Menguduskan Nama-Nya Lebih Penting daripada Memperdebatkan Ejaannya
- Hati yang menghormati lebih berharga daripada bibir yang sekadar tepat menyebut. Matius 15:8 mengingatkan bahaya bibir yang memuliakan tetapi hati menjauh.
- Hindari legalisme seputar istilah. Perdebatan istilah sering menggeser fokus dari ketaatan dan kasih kepada Tuhan.
- Gunakan bahasa yang membangun dan mempersatukan. Dalam konteks ibadah jemaat, pakailah istilah yang dapat dipahami bersama, tanpa memaksakan preferensi pribadi sebagai satu-satunya yang “alkitabiah”.
Intinya: yang terutama bukan apakah kita mengucapkannya Yahweh, Yehovah, TUHAN, atau Allah, tetapi apakah kita menguduskan nama-Nya dalam iman, ketaatan, dan kasih. Matius 6:9 mengajar kita untuk pertama-tama berdoa agar nama-Nya dikuduskan, bukan diperdebatkan.
Kesimpulan
YHWH adalah nama kudus yang Allah nyatakan kepada umat-Nya. Secara historis dan akademis, banyak yang menilai “Yahweh” kemungkinan besar mendekati pelafalan aslinya. Namun Alkitab tidak mewajibkan satu cara penyebutan tertentu. Yang dituntut adalah sikap hati yang menguduskan nama-Nya, hidup yang menghormati Dia, dan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, yang melalui-Nya kita mengenal Bapa.
Yang terpenting bukan volume, vokal, atau varian ejaan, melainkan ketaatan: “Dikuduskanlah nama-Mu” (Matius 6:9).