Topik LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) telah menjadi salah satu perdebatan besar di banyak gereja. Di satu sisi, ada panggilan untuk kasih dan penerimaan tanpa syarat, namun di sisi lain ada teguran keras untuk hidup kudus sesuai firman Tuhan. Maka muncul pertanyaan yang rumit namun penting: haruskah gereja menerima orang LGBT?
Sebelum menjawabnya, penting untuk memperjelas: “menerima” bukan berarti menyetujui, dan “menolak” bukan berarti membenci. Gereja dipanggil untuk mencerminkan karakter Kristus, yaitu kasih dan kebenaran secara bersamaan. Mari kita melihatnya melalui terang Alkitab.
1. Yesus Menerima Orang Berdosa, Tapi Tidak Membiarkan Mereka Tinggal dalam Dosa
Yesus dikenal karena kerelaan-Nya menjangkau orang-orang yang dianggap tidak layak oleh masyarakat. Ia makan bersama pemungut cukai (Lukas 19:1-10), berbicara dengan perempuan Samaria (Yohanes 4:7-26), dan bahkan menyelamatkan perempuan yang hampir dirajam karena perzinahan (Yohanes 8:1-11).
Namun Yesus tidak pernah berkata, “teruslah seperti itu.” Ia selalu menyampaikan kebenaran. Kepada perempuan yang berzinah, Yesus berkata, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11)
Itulah hati Tuhan. Ia memanggil setiap orang dengan kasih, tetapi juga dengan panggilan untuk berubah.
2. Alkitab dengan Jelas Menyebut Hubungan Sesama Jenis Sebagai Dosa
Dalam Roma 1:26-27, Paulus menuliskan bahwa hubungan sesama jenis adalah hasil dari manusia yang menolak Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Dalam 1 Korintus 6:9-10, praktik homoseksual termasuk dalam daftar perbuatan yang menjauhkan seseorang dari Kerajaan Allah.
Namun ayat 11 melanjutkan dengan harapan: “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah dibasuh, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Artinya, tidak ada yang terlalu jauh dari kasih dan pemulihan Tuhan termasuk orang yang memiliki kecenderungan atau latar belakang LGBT.
3. Gereja Harus Menjadi Tempat Pemulihan, Bukan Penghakiman
Gereja bukan tempat bagi orang-orang sempurna, tetapi tempat bagi orang-orang berdosa yang mau diubahkan. Itu berarti pintu gereja harus terbuka bagi siapa pun yang datang mencari Tuhan, termasuk mereka yang sedang berjuang dalam identitas seksual.
Namun, gereja juga tidak boleh mengubah kebenaran untuk membuat orang merasa nyaman dalam dosa. Kasih yang sejati bukan yang membiarkan seseorang tinggal dalam kebohongan, tetapi yang dengan sabar menuntun mereka kepada kebenaran.
Efesus 4:15 mengajar kita untuk “berbicara benar dalam kasih.” Maka pendekatan gereja terhadap isu LGBT harus penuh belas kasihan, tetapi tetap teguh dalam kebenaran Firman Tuhan.
4. Menerima Orangnya, Menolak Dosanya
Inilah prinsip penting yang harus dipegang: kita memisahkan identitas pribadi dari perilaku berdosa. Sama seperti kita menerima seorang pemarah tetapi menegur kemarahannya, atau seorang pecandu tetapi menolongnya lepas dari kecanduannya, demikian juga dengan isu LGBT.
Yesus tidak mengidentifikasi orang berdasarkan dosa mereka, tetapi berdasarkan siapa mereka di mata Bapa. Namun Yesus juga tidak menyamarkan dosa menjadi bagian dari identitas suci. Maka gereja perlu berani mengasihi dan menolong, bukan hanya menyetujui.
5. Kesimpulan: Gereja Harus Membuka Pelukan, Tapi Tidak Menjual Kompromi
Haruskah gereja menerima LGBT? Jika maksudnya adalah menerima orang-orang yang sedang berjuang, sedang mencari Tuhan, atau ingin mengenal Yesus jawabannya ya, dengan penuh kasih dan keterbukaan. Tapi jika maksudnya adalah menyetujui praktik yang bertentangan dengan Firman dan mengubah ajaran demi toleransi jawabannya tidak.
Gereja tidak dipanggil untuk populer, tapi untuk setia. Dan kesetiaan itu tercermin dalam cara kita mengasihi tanpa menyetujui dosa, serta menuntun jiwa kepada pertobatan, bukan pembenaran.