Banyak orang ingin tahu kebenaran, tapi tidak semua hati siap untuk menerimanya. Bahkan, saat kebenaran itu datang dengan lembut, hati yang keras akan menolaknya. Masalahnya bukan pada kebenaran itu sendiri, tetapi pada kondisi hati kita saat menerimanya.
Yesus pernah menceritakan perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:3-9. Dalam kisah itu, benih yang sama ditaburkan ke berbagai jenis tanah. Tapi hanya satu jenis tanah yang menghasilkan buah: tanah yang subur, yang melambangkan hati yang siap menerima firman Tuhan. Matius 13:23 menjelaskan, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah.”
Kebenaran tidak akan tumbuh di hati yang keras, tertutup, atau dipenuhi oleh hal-hal dunia. Bahkan jika kita sudah lama mengikuti Tuhan, tidak menjamin bahwa hati kita selalu siap menerima teguran atau pengajaran yang baru. Justru seringkali orang yang merasa sudah “cukup tahu” malah menolak untuk belajar lebih dalam.
Yeremia 17:9 berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Hati manusia bisa menipu, membuat kita merasa benar padahal sedang menjauh dari kebenaran. Di sinilah pentingnya kerendahan hati dan keberanian untuk diperiksa oleh firman.
Mazmur 139:23-24 adalah doa yang patut kita panjatkan setiap hari: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”
Ketika hati kita lembut, siap ditegur, siap dibentuk, maka kebenaran akan berakar dan berbuah. Jangan takut akan kebenaran, karena kebenaranlah yang memerdekakan (Yohanes 8:32). Tapi pastikan hati kita cukup terbuka untuk menerimanya, bukan hanya ketika nyaman, tapi juga ketika menantang.