Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk mengejar mimpi, mencari kesuksesan, dan berusaha menjadi yang terbaik. Tidak salah. Namun tanpa disadari, dunia mendorong kita untuk menjadikan diri sendiri pusat segalanya. Kita sibuk bertanya: “Apa yang aku dapat? Apa yang membuatku nyaman? Bagaimana orang lain melihatku?” Padahal, hidup yang sejati bukanlah tentang aku, melainkan tentang Allah.
Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Ini adalah panggilan yang radikal. Mengikut Kristus berarti berhenti menaruh diri di pusat, dan menjadikan Kristus pusat segalanya. Dunia mungkin berkata, “Utamakan dirimu dulu,” tetapi Injil berkata, “Utamakan Tuhan di atas segalanya.”
Paulus juga menegaskan hal serupa: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan berasal dari ambisi kita, melainkan dari Allah. Kita hanyalah penatalayan, bukan pemilik hidup ini. Semua yang kita punya hanyalah titipan, dan tujuan akhirnya adalah untuk memuliakan Dia.
Namun jujur, tidak mudah untuk hidup dengan kesadaran ini. Ego kita sering melawan. Kita ingin dipuji, kita ingin diakui, kita ingin dihormati. Tetapi saat kita menjadikan hidup hanya tentang diri sendiri, kita akan cepat kecewa. Hidup yang berpusat pada diri menghasilkan kehampaan, tetapi hidup yang berpusat pada Allah menghasilkan sukacita yang sejati.
Lihatlah Yesus. Ia, yang adalah Anak Allah, rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:6-7). Jika Yesus saja tidak menaruh diri-Nya di pusat, mengapa kita masih terus berusaha menjadikan diri sendiri pusat segalanya? Semakin kita belajar menaruh Kristus sebagai pusat hidup, semakin kita menemukan arti sejati dari kehidupan.
Praktisnya, hidup bukan tentang aku berarti belajar berkata:
- Bukan tentang apa yang aku inginkan, tetapi apa yang Tuhan kehendaki.
- Bukan tentang bagaimana orang memandangku, tetapi bagaimana Tuhan menilai hatiku.
- Bukan tentang ambisiku, tetapi tentang panggilan-Nya.
Saat kita menghidupi ini, kita akan lebih ringan dalam melangkah. Kita tidak lagi harus membuktikan diri kepada dunia, sebab identitas kita ada di dalam Kristus. Kita tidak lagi mengejar pengakuan manusia, sebab kita sudah diterima oleh Bapa.
Hari ini, mari berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat. Hidup ini bukan tentang aku, bukan tentang kamu, tapi tentang Dia. Dan hanya ketika Kristus menjadi pusat, hidup kita menemukan damai dan tujuan yang sejati.
Ya Tuhan, ajarku untuk berhenti menjadikan diriku pusat dari segalanya. Tolong aku untuk memandang kepada-Mu dan menjadikan Engkau tujuan tertinggi dalam hidupku. Biarlah setiap langkahku selalu memuliakan Engkau, bukan diriku. Amin.