Banyak orang merasa bahwa untuk merasakan hadirat Tuhan, mereka harus berada di tempat khusus seperti gereja, retret, atau dalam momen rohani yang dramatis. Padahal, Tuhan juga hadir di tengah rutinitas sehari-hari kita. Sayangnya, rutinitas sering membuat kita lupa bahwa setiap detik hidup ini adalah kesempatan untuk mengalami kasih-Nya.
Dalam Kolose 3:23 tertulis, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ayat ini mengingatkan bahwa bahkan hal-hal sederhana seperti bekerja, belajar, atau mengurus keluarga bisa menjadi bentuk penyembahan jika dilakukan dengan hati yang benar.
Masalahnya bukan pada kegiatan yang terlihat biasa, melainkan pada bagaimana kita memandangnya. Ketika kita mengerjakan sesuatu hanya sebagai kewajiban, rutinitas terasa membosankan. Tetapi ketika kita melihatnya sebagai bagian dari panggilan Tuhan, rutinitas menjadi kesempatan untuk melayani Dia.
Bayangkan seorang ibu yang menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Itu mungkin tampak sederhana, tapi jika dilakukan dengan kasih, Tuhan melihatnya sebagai pelayanan. Atau seorang pekerja yang menyelesaikan tugas kantornya dengan jujur, tanpa manipulasi, itu pun adalah bentuk ibadah. Tuhan hadir di tengah kesederhanaan, bukan hanya di momen spektakuler.
Yesus sendiri memberi teladan. Sebelum memulai pelayanan publik, Ia hidup bertahun-tahun sebagai tukang kayu di Nazaret (Markus 6:3). Pekerjaan tangan-Nya yang sederhana pun tidak mengurangi hadirat Allah dalam hidup-Nya. Hal ini mengajarkan kita bahwa setiap aspek hidup bisa dipenuhi kemuliaan Tuhan, jika kita melakukannya bersama Dia.
Mungkin saat ini rutinitasmu terasa melelahkan, monoton, bahkan membosankan. Tetapi percayalah, di balik rutinitas itu ada kesempatan untuk bertemu Tuhan. Saat kamu bekerja dengan tekun, saat kamu melayani keluarga dengan tulus, atau bahkan saat kamu duduk sendiri merenung, Tuhan ada di sana.
Mazmur 16:8 berkata, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Mari belajar melihat Tuhan bukan hanya dalam mujizat besar, tapi juga dalam rutinitas kecil setiap hari.
Tuhan, ajarku untuk selalu melihat Engkau di setiap aspek hidupku, bahkan dalam hal-hal yang tampak sederhana. Biarlah rutinitasku bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan untuk menyenangkan hati-Mu. Hadirlah dalam pekerjaanku, keluargaku, dan setiap langkahku. Amin.