Ada cara halus memakai Tuhan: menjadikan doa sebagai alat transaksi, memilih ayat yang mendukung kemauan kita, melayani ketika terlihat orang, atau menempelkan nama-Nya pada rencana yang sudah kita kunci. Yakobus menyinggung ini tajam, “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3). Apakah kita sedang mencari Allah, atau hanya hasil-Nya?
Yesus menegur orang banyak yang mengikut Dia karena roti, bukan karena Pribadi-Nya (Yohanes 6:26). Nabi juga bersuara, “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya, memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Yesaya 29:13). Tuhan bukan alat untuk melegitimasi keinginan pribadi, Ia adalah Tuhan yang layak ditaati meski jawaban tidak mengikuti selera kita. Pusat Injil menata ulang kompas: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Matius 6:33). Dan garis besarnya jelas, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Roma 11:36).
Alkitab memberi contoh keras tentang bahaya memanfaatkan yang kudus. Israel membawa tabut perjanjian ke medan perang seolah jimat lalu kalah telak, karena mereka mengejar simbol tanpa menaati Sang Pemilik simbol itu (1 Samuel 4:3-11). Di Perjanjian Baru, Simon si tukang sihir ingin “membeli” kuasa Roh untuk agenda dirinya, dan Petrus menegur keras karena hatinya tidak lurus di hadapan Allah (Kisah Para Rasul 8:18-23). Kasih karunia tidak bisa diperalat. Allah mengundang kita tunduk, bukan memanipulasi.
Bagaimana keluar dari godaan memakai Tuhan demi agenda pribadi dan beralih menjadi pribadi yang dipakai Tuhan?
- Ubah doa dari “berkatilah rencanaku” menjadi “selaraskan hatiku.” Doakan Matius 6:10, “Jadilah kehendak-Mu.” Jika Tuhan berkata tidak, apakah engkau tetap mau menyembah?
- Periksa motif secara rutin. Doakan Mazmur 139:23-24. Tanyakan, apakah keputusan ini memuliakan Tuhan atau mempromosikan diriku? Bila damai memudar, berhenti dan luruskan arah. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu” (Kolose 3:15).
- Jadikan firman kompas, bukan stempel pembenaran. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan” (2 Timotius 3:16). Datanglah untuk dikoreksi, bukan sekadar dicari ayat pendukung.
- Pilih ketaatan kecil yang tidak fotogenik. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku” (Mazmur 119:105). Taati terang selangkah, entah itu minta maaf, mengembalikan yang bukan hak, atau menutup pintu kompromi.
- Ukur buah, bukan gemuruh. Yakobus 3:17-18 menyebut hikmat dari atas itu murni, pendamai, penuh belas kasihan. Galatia 5:22-23 menyebut buah Roh. Jika langkahmu menambah damai dan kasih, engkau sedang digerakkan Tuhan, bukan gengsi.
- Bangun akuntabilitas. Ajak sahabat rohani menilai rencana. “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak” (Amsal 15:22).
- Belajar berkata cukup. Agenda pribadi sering berakar pada lapar validasi. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Orang yang sudah dikasihi tidak perlu memakai Tuhan untuk membuktikan diri.
Intinya, Tuhan bukan sarana mencapai tujuan, Dia sendiri adalah Tujuan. Ketika pusat hati bergeser dari “pakai Tuhan” menjadi “dipakai Tuhan,” kita lebih siap menerima “ya,” “tidak,” atau “tunggu” tanpa kehilangan penyembahan. Di sana, pelayanan menjadi persembahan, bukan proyek citra. Doa menjadi perjumpaan, bukan alat negosiasi. Dan keputusan kita memancarkan kerajaan, bukan kerajaan kecil bernama diri.
Yesus, selaraskan hatiku dengan hati-Mu. Bebaskan aku dari godaan memakai nama-Mu untuk ambisiku. Ajari aku mencari Kerajaan-Mu terlebih dahulu, taat pada terang hari ini, dan puas karena Engkau cukup. Biarlah setiap rencanaku dikoreksi oleh firman-Mu, dijaga oleh damai-Mu, dan diarahkan untuk memuliakan Engkau. Amin.