Pernahkah kamu berdiri memandangi langit malam dan merasa takjub dengan jutaan bintang yang bersinar? Atau melihat bayi tertawa dan merasakan haru tanpa alasan? Rasa kagum bukan sekadar emosi sesaat. Sains menyebutnya sebagai awe dan Alkitab menyebutnya sebagai takut akan Tuhan atau kekaguman akan ciptaan-Nya. Yang mengejutkan, keduanya menyetujui satu hal: rasa kagum sangat penting untuk kesehatan jiwa dan kerohanian kita.
Rasa Kagum Menurunkan Ego dan Stres
Dalam psikologi, awe adalah perasaan yang muncul saat kita menghadapi sesuatu yang luar biasa besar atau mengagumkan, sehingga membuat kita merasa kecil tapi terhubung dengan sesuatu yang lebih besar. Penelitian menunjukkan bahwa rasa kagum bisa menurunkan aktivitas di bagian otak yang mengatur self-focus (default mode network), membantu kita keluar dari fokus pada diri sendiri. Hasilnya? Tingkat stres menurun, rasa syukur meningkat.
Bahkan penelitian yang dilakukan di UC Berkeley menemukan bahwa orang yang sering merasa kagum memiliki kadar sitokin (penanda peradangan) yang lebih rendah. Itu artinya, keheranan yang sehat bisa memperkuat imunitas kita.
Alkitab: Kekaguman adalah Respons Alami terhadap Tuhan
Rasa kagum bukan hanya sehat, tetapi juga spiritual. Alkitab penuh dengan ajakan untuk terkagum. Dalam Mazmur 8:4-5, Daud menulis, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” Kekaguman Daud bukan hanya puisi, tapi bentuk pengakuan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari kita yang layak dihormati.
Yesaya juga pernah mengalami hal ini. Dalam Yesaya 6:1-5, ia melihat kemuliaan Tuhan di bait-Nya dan langsung berkata, “Celakalah aku!” Kekaguman akan Tuhan membawanya pada kesadaran diri dan kebutuhan akan kasih karunia.
Mengembalikan Kepekaan Kita terhadap Keajaiban
Masalahnya, kehidupan modern sering membuat kita mati rasa terhadap hal-hal yang menakjubkan. Segalanya terasa biasa karena terlalu cepat dan sibuk. Tapi ketika kita sengaja memperlambat, melihat pohon tumbuh, mendengar suara hujan, atau menyadari bahwa jantung kita berdetak tanpa kita perintah, kita kembali belajar untuk kagum.
Kekristenan mengundang kita untuk hidup dengan mata yang terbuka akan keajaiban. Roma 1:20 berkata, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya, sejak dunia diciptakan.” Artinya, alam sekitar bisa mengajarkan kita untuk kagum pada Tuhan setiap hari.
Jadi, mengapa kita perlu terkagum? Karena dalam kekaguman, kita diingatkan bahwa kita bukan pusat dunia, bahwa hidup ini penuh mukjizat kecil, dan bahwa ada Pribadi yang luar biasa di balik semuanya. Rasa kagum bukan kelemahan, tapi kekuatan untuk menyembah, bersyukur, dan hidup dengan hati yang penuh harapan.