Setiap orang pasti pernah berhadapan dengan “musuh” dalam hidupnya. Musuh itu bisa berupa orang yang menyakiti kita, situasi yang melawan, atau bahkan kelemahan diri sendiri. Namun, Alkitab berulang kali menunjukkan bahwa musuh yang kita hadapi bisa menjadi alat Tuhan untuk membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Ambil contoh Daud ketika dikejar oleh Saul. Walaupun Daud tidak bersalah, ia menjadi buronan dan hidup dalam pelarian. Justru dalam masa itu lahir banyak mazmur yang penuh curahan hati kepada Tuhan. Tekanan dari musuh membuat Daud semakin bergantung pada Tuhan, bukan pada kekuatannya sendiri. Ia menulis, “Sebab kepada-Mu aku berserah; pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung.” (Mazmur 31:15).
Demikian juga Rasul Paulus mengalami hal serupa. Ia banyak mendapat perlawanan, penjara, bahkan ancaman kematian. Namun, di tengah itu semua, ia justru semakin yakin bahwa kuasa Tuhan nyata. 2 Korintus 12:10 berkata, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Musuh yang berusaha menghancurkannya justru membuat imannya semakin kokoh.
Kadang Tuhan tidak langsung mengambil musuh dari hidup kita karena Ia ingin kita belajar berjalan lebih dekat dengan-Nya. Musuh bisa menjadi sarana untuk melatih iman, melatih kesabaran, dan menguji hati kita. Tanpa tekanan, mungkin kita tidak pernah benar-benar berdoa dengan sungguh-sungguh atau bergantung penuh pada kasih karunia-Nya.
Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:44, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Mengapa? Karena lewat respon itu, kita belajar karakter Kristus. Musuh bukan hanya membuat kita lebih kuat, tapi juga bisa menjadi kesempatan bagi kasih Tuhan dinyatakan.
Jadi, saat musuh datang, jangan hanya melihatnya sebagai beban. Lihatlah sebagai kesempatan. Setiap perlawanan bisa menjadi alasan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Seperti Daud, biarlah kita belajar menjadikan doa dan penyembahan sebagai tempat perlindungan, bukan balas dendam atau kepahitan.
Tuhan, terima kasih karena bahkan musuh dalam hidupku Engkau pakai untuk mendekatkanku kepada-Mu. Tolong aku agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi belajar melihat setiap tekanan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Dekatkan hatiku selalu pada-Mu. Amin.