Ada masa dalam hidup ketika kita merasa cerita kita sudah “selesai”. Kesalahan di masa lalu, kegagalan yang memalukan, atau pengalaman pahit membuat kita berpikir bahwa inilah akhir dari segalanya. Namun, Tuhan adalah Allah yang sanggup menulis ulang cerita hidup kita, bukan berdasarkan kelemahan kita, melainkan berdasarkan kasih dan rencana-Nya yang sempurna.
Contoh nyata bisa kita lihat pada kehidupan Paulus. Sebelum dipakai Tuhan, ia dikenal sebagai Saulus, seorang penganiaya jemaat. Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang benar, padahal tindakannya justru menyakiti orang-orang yang mengikut Kristus. Tetapi ketika ia berjumpa dengan Yesus di jalan menuju Damsyik (Kisah Para Rasul 9:3-6), hidupnya berubah total. Ceritanya yang kelam diubah menjadi kesaksian yang luar biasa. Dari penindas, Paulus berubah menjadi pemberita Injil.
Kisah Yusuf juga mengajarkan hal serupa. Dikhianati saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, bahkan dipenjara. Semua itu terlihat seperti kisah yang tragis. Tetapi Tuhan menulis ulang ceritanya sehingga Yusuf dipakai menjadi alat penyelamatan bagi bangsanya. Yusuf akhirnya bisa berkata kepada saudara-saudaranya, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20).
Sering kali kita ingin hidup ini berjalan sesuai rencana kita. Namun, Alkitab berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Tuhan tidak berhenti menulis. Saat kita merasa titik hidup kita sudah diakhiri, bagi Tuhan itu baru koma, sebuah transisi menuju bab baru yang lebih indah.
Yang perlu kita lakukan adalah percaya dan menyerahkan pena hidup kita ke tangan-Nya. Jangan takut bila masa lalu kita kotor, karena kasih karunia Tuhan lebih besar daripada segala kegagalan. Jangan ragu bila saat ini masih gelap, karena Tuhan sedang menyiapkan terang yang baru.
Hari ini, mungkin engkau merasa ceritamu penuh luka dan tidak layak dibaca siapa pun. Ingatlah, Tuhan sedang menulis ulang kisahmu untuk menjadi kesaksian yang memberkati banyak orang. Ia tidak pernah salah menulis, dan akhir dari cerita bersama-Nya selalu penuh kemenangan.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak menyerah pada hidupku. Aku serahkan seluruh ceritaku ke dalam tangan-Mu. Tulis ulang hidupku dengan kasih dan rencana-Mu, agar hidupku menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu. Amin.