Kalau benar Alkitab itu firman Tuhan, kenapa ditulis oleh manusia biasa? Bukankah seharusnya Tuhan sendiri yang menulisnya supaya tidak ada salah? Pertanyaan ini sangat wajar dan sering muncul, terutama bagi mereka yang sedang mencari kebenaran atau bahkan baru mulai membaca Alkitab. Tapi justru lewat pertanyaan ini, kita bisa lebih dalam mengenal bagaimana Tuhan bekerja melalui manusia.
Tuhan Bekerja Melalui Manusia
Sejak awal penciptaan, Tuhan memang memilih untuk bekerja melalui manusia. Ia tidak menciptakan dunia ini dan lalu meninggalkannya begitu saja, melainkan melibatkan ciptaan-Nya dalam rencana-Nya. Begitu juga dengan penulisan Alkitab. Alkitab ditulis oleh sekitar 40 penulis yang berasal dari latar belakang berbeda-beda ada raja, nabi, petani, dokter, nelayan, bahkan pemungut cukai. Tapi semuanya menulis dengan satu benang merah: bimbingan dari Roh Kudus.
2 Timotius 3:16 berkata, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran.” Ayat ini menunjukkan bahwa meski tangan manusialah yang menulis, isi dari tulisan itu berasal dari inspirasi Allah.
Inspirasi Ilahi, Bukan Dikte Kata per Kata
Penting dipahami bahwa Alkitab bukan hasil “dikte langsung” dari Tuhan seperti mesin pengetik otomatis. Tuhan memberi inspirasi, dan para penulis mencatat sesuai konteks dan gaya bahasa mereka, namun tetap dalam garis besar kehendak Allah. Hal ini juga yang membuat Alkitab sangat hidup, karena ditulis dari sudut pandang manusia yang mengalami sendiri perjumpaan dengan Tuhan.
2 Petrus 1:21 menjelaskan, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” Di sini kita melihat bahwa Tuhan tidak mengambil alih tubuh penulis, tapi memberikan dorongan agar mereka menulis sesuai kehendak-Nya.
Justru Karena Ditulis Manusia, Alkitab Jadi Dekat
Jika Alkitab ditulis langsung oleh Tuhan dalam bentuk kilatan cahaya di langit, mungkin orang akan sulit merasa terhubung dengannya. Tapi karena ditulis oleh manusia yang juga mengalami penderitaan, sukacita, kegagalan, dan pemulihan, maka kisah dalam Alkitab menjadi sangat relevan bagi hidup kita hari ini.
Misalnya, Mazmur banyak ditulis oleh Daud dalam masa-masa gelapnya. Kisah Paulus ditulis dari balik jeruji penjara. Semua ini membuat kita bisa berkata, “Kalau mereka bisa berharap kepada Tuhan di tengah penderitaan, maka saya juga bisa.”
Firman Tuhan, Tapi Melalui Wadah Manusia
Jadi, jangan bingung ketika tahu Alkitab ditulis manusia. Sebab Tuhan memang merancangnya begitu. Sama seperti Yesus yang adalah Allah, tapi menjadi manusia, firman Tuhan juga menjadi nyata melalui kata-kata manusia yang dipakai-Nya. Ini bukan kelemahan, justru kekuatan. Karena Tuhan tidak jauh di atas awan sana, tapi hadir dan berbicara lewat kehidupan orang-orang yang Dia pilih.