Di dunia yang keras dan penuh kepalsuan, kasih sering dianggap lemah. Banyak orang lebih percaya pada kekuatan, kecerdikan, bahkan manipulasi untuk bertahan hidup. Tapi Alkitab punya narasi yang berbeda. Kasih bukan kelemahan, kasih adalah kekuatan terbesar yang Tuhan ajarkan dan kasih selalu menang.
Mengapa?
Karena kasih adalah karakter inti Allah sendiri. 1 Yohanes 4:8 berkata, “Allah adalah kasih.” Kasih bukan hanya sesuatu yang Tuhan miliki, tapi itu adalah siapa Dia. Dan karena Allah adalah yang kekal, maka kasih pun tidak akan pernah gagal atau punah. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 13:8, “Kasih tidak berkesudahan.”
Banyak hal akan berlalu. Nubuatan akan berhenti. Bahasa roh akan lenyap. Pengetahuan akan berakhir. Tapi kasih? Kasih tetap. Mengapa? Karena kasih mengubah, menyembuhkan, menyatukan, dan membebaskan.
Mari lihat contoh terbesar: Yesus di kayu salib. Ia dihina, dicambuk, dipaku. Ia bisa saja memanggil malaikat untuk membalas, tapi Ia memilih kasih. Ia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Dunia pikir salib adalah kekalahan. Tapi justru di situlah kasih menang atas dosa dan maut.
Kasih menang karena ia tidak menyerah. Dalam 1 Korintus 13:7, kasih itu “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Itu bukan kasih yang mudah menyerah ketika dikhianati, dilukai, atau diabaikan. Itu adalah kasih yang terus memilih untuk mengasihi, meski tak dibalas.
Kasih juga menang karena ia mengubahkan hati. Marah dibalas marah akan membakar dunia. Tapi kasih bisa melunakkan hati yang paling keras. Kasih punya cara menembus pertahanan orang, membuat mereka merasa dilihat dan diterima. Kasih tidak selalu menang secara instan, tapi dalam jangka panjang, ia meninggalkan jejak yang tidak bisa dilupakan.
Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi paling benar, paling hebat, atau paling terkenal tapi untuk mengasihi. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).
Jadi kalau kamu sedang lelah mengasihi, atau merasa kasihmu tidak dihargai, ingat ini: kasih tidak pernah sia-sia. Mungkin hasilnya belum terlihat, tapi di mata Tuhan, kasihmu tidak pernah gagal. Sebab kasih bukan tentang siapa yang menang dalam debat, tapi siapa yang menang dalam menunjukkan hati Tuhan.