Di zaman ini, opini manusia bertebaran di mana-mana. Media sosial penuh dengan pendapat, nasihat, bahkan “kebenaran” versi masing-masing orang. Ada yang terdengar bijak, ada yang penuh emosi, ada juga yang terdengar logis tetapi tidak sesuai dengan kebenaran Firman. Jika kita tidak berhati-hati, suara manusia bisa lebih dominan daripada suara Tuhan dalam hidup kita.
Mazmur 119:105 berkata, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Artinya, Firman Tuhan adalah standar utama untuk menuntun langkah kita. Opini manusia bisa berubah-ubah, tetapi Firman Tuhan kekal. Matius 24:35 menegaskan, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
Yesus sendiri pernah menghadapi perbedaan antara opini manusia dan kebenaran Allah. Dalam Markus 7:8 Ia menegur orang Farisi, “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Mereka lebih mementingkan tradisi dan pendapat umum daripada kebenaran Firman. Bukankah hal yang sama juga sering terjadi pada kita? Kadang kita lebih peduli dengan “apa kata orang” daripada “apa kata Tuhan.”
Menghargai Firman berarti menaruhnya di atas segala opini, bahkan opini kita sendiri. Ada kalanya Firman menegur dan terasa keras. Ada kalanya Firman menentang arus mayoritas. Namun jika kita sungguh mengasihi Tuhan, kita akan memilih taat kepada Firman, bukan kepada suara terbanyak. Petrus dan rasul-rasul lainnya pernah berkata kepada para pemimpin agama, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29).
Menghargai Firman lebih dari opini manusia juga berarti menjadikan Alkitab sebagai filter dalam hidup kita. Sebelum kita mengambil keputusan, kita perlu bertanya, “Apakah ini sesuai dengan Firman?” Sebelum menerima nasihat orang lain, kita harus menimbang, “Apakah ini sejalan dengan kebenaran Tuhan?” Dengan cara itu, kita tidak akan mudah goyah oleh pendapat yang berubah-ubah.
Firman bukan sekadar informasi, tapi transformasi. Jika kita sungguh menaruhnya di atas segala opini, hidup kita akan dipenuhi arah yang jelas, damai sejahtera, dan kekuatan untuk bertahan di tengah tekanan dunia.
Hari ini, mari tanyakan pada diri kita: Apakah aku lebih takut menyenangkan manusia daripada menyenangkan Tuhan? Apakah Firman sungguh menjadi standar tertinggi dalam hidupku? Jika jawabannya belum, inilah waktunya untuk kembali menaruh Firman di posisi yang benar.
Tuhan, tolong aku agar selalu menghargai Firman-Mu lebih dari opini manusia. Ajarlah aku untuk tidak goyah oleh suara dunia, tetapi berpegang teguh pada kebenaran yang kekal. Biarlah hidupku selalu diarahkan oleh Firman-Mu. Amin.