Musa dikenal sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Alkitab, pemimpin yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Namun, awalnya ia bukanlah sosok yang percaya diri. Dalam Keluaran 4:10, Musa mengakui kepada Tuhan bahwa ia “tidak pandai bicara” dan lambat lidah. Ia merasa tidak layak memikul tugas besar sebagai juru bicara Allah di hadapan Firaun.
Namun, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna dalam keterampilan, melainkan hati yang mau taat. Kelemahan tidak menjadi penghalang bagi rencana Allah, selama kita mau berjalan bersama-Nya. Ia meyakinkan Musa bahwa Ia sendiri akan menyertai dan mengajarkan apa yang harus dikatakan. Tuhan bahkan mengutus Harun, kakak Musa, untuk membantunya berbicara.
Menariknya, Musa justru menjadi pemimpin yang dikenal dekat dengan Tuhan dan berani berbicara tegas kepada bangsa Israel maupun kepada Firaun. Keberanian itu bukan hasil perubahan bakat alami, melainkan buah dari ketaatan dan penyertaan Tuhan.
Dalam kehidupan kita, sering kali kita merasa tidak cukup pintar, tidak fasih, atau tidak punya modal untuk melayani Tuhan. Namun, jika kita fokus pada kekurangan, kita akan kehilangan kesempatan melihat bagaimana kuasa-Nya bekerja melalui kita. Tuhan tidak memanggil orang yang sempurna, tetapi Dia memampukan orang yang mau merespons panggilan-Nya.
Jadi, ketika Tuhan menaruh beban atau tugas dalam hati kita, jangan tunggu sampai kita merasa “siap” atau “mahir” terlebih dahulu. Langkahlah dalam iman seperti Musa, karena Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang menyertai.
Tuhan, aku sering merasa terbatas dan tidak layak. Namun, ajarku untuk taat dan percaya bahwa Engkau sanggup memampukan aku melakukan panggilan-Mu.