Rasa bersalah adalah bagian alami dari hidup manusia. Kadang kita menyesali keputusan yang telah dibuat, perkataan yang melukai orang lain, atau dosa yang kita sembunyikan lama. Tidak sedikit orang yang terjebak dalam lingkaran penyesalan dan merasa tidak layak untuk mendekat kepada Tuhan. Namun benarkah Tuhan menjauh dari kita ketika kita diliputi rasa bersalah?
Mazmur 34:19 berkata, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Ini adalah pengingat bahwa Tuhan justru hadir di tengah hati yang hancur dan jiwa yang menyesal. Ia bukan Allah yang hanya hadir di saat kita sempurna, melainkan Tuhan yang datang ketika kita runtuh.
Salah satu contoh paling menyentuh adalah Petrus. Setelah menyangkal Yesus tiga kali (Lukas 22:61-62), ia menangis dengan amat sedih. Tapi apa yang Yesus lakukan? Setelah kebangkitan-Nya, Yesus tidak mencela atau mengungkit-ungkit kegagalan Petrus. Sebaliknya, Ia memulihkan Petrus dan mempercayakan padanya tanggung jawab besar (Yohanes 21:15-17). Ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak bersyarat dan penuh pemulihan.
1 Yohanes 1:9 menyatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ayat ini memberi jaminan bahwa tidak ada rasa bersalah yang terlalu besar hingga tak bisa ditanggung oleh kasih karunia-Nya.
Seringkali, kita yang justru menghukum diri sendiri melebihi apa yang Tuhan kehendaki. Kita memelihara rasa bersalah seolah-olah itu adalah bentuk penebusan. Namun, salib Kristus sudah cukup. Yang Tuhan minta bukanlah kita menyiksa diri, tetapi bertobat dan kembali kepada-Nya. Yesaya 1:18 berkata, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.” Itu janji-Nya.
Maka saat rasa bersalah datang, jangan menjauh. Justru datanglah lebih dekat. Peluk kasih Bapa yang memulihkan. Tuhan tidak menolak hati yang remuk. Sebaliknya, Dia menanti kita dengan tangan terbuka untuk mengampuni dan memulihkan, bukan menghakimi.