🏠

Yesaya: Bersedia Sebelum Tahu Apa Misinya

Ada satu momen dramatis dalam kitab Yesaya yang sering kita ingat. Nabi Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, sementara serafim berseru satu sama lain: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yesaya 6:3). Pemandangan itu begitu dahsyat hingga Yesaya merasa hancur: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir…” (ayat 5).

Di situ Yesaya sadar: di hadapan Allah yang kudus, dirinya tak pantas. Namun Allah mengutus serafim menyentuh bibirnya dengan bara api, menyucikannya, lalu sebuah suara terdengar: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (ayat 8). Tanpa tahu detail misi yang akan dijalani, Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku!”

Inilah ketaatan yang luar biasa: bersedia tanpa menunggu tahu semuanya.

Banyak dari kita sering menunda ketaatan dengan alasan belum siap. Kita ingin tahu dulu detailnya, kita ingin jaminan tidak akan gagal, kita menunggu semua kondisi mendukung. Namun Tuhan sering memanggil kita untuk melangkah bahkan ketika kita belum tahu ujungnya.

Yesaya dipanggil bukan untuk tugas yang mudah. Tuhan justru berkata bahwa bangsa yang ia layani tidak akan langsung bertobat, bahkan hatinya akan tetap keras (Yesaya 6:9–10). Bayangkan, melayani tetapi tidak populer, menabur firman tapi tidak selalu menuai hasil yang terlihat. Namun di situlah ketaatan Yesaya diuji: bukan soal hasil yang instan, tetapi soal kesetiaan.

Ketaatan sejati bukan menunggu peta lengkap, tapi percaya bahwa Tuhan sendiri yang menjadi penuntun.

Dalam hidup kita, panggilan Tuhan bisa datang dalam banyak bentuk: mengampuni orang yang menyakiti, mengasihi mereka yang sulit dikasihi, melayani meski terasa berat, memberi saat tidak berkelebihan, atau tetap setia dalam doa saat belum ada jawaban. Semua itu menuntut kita untuk berkata, “Ya Tuhan, aku mau,” bahkan ketika kita belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Yesaya mengajarkan bahwa kesiapan kita bukan datang dari keadaan yang sempurna, melainkan dari hati yang rela. Tuhan tidak mencari orang paling pandai, paling fasih, atau paling kuat. Tuhan mencari hati yang berkata: “Ini aku, utuslah aku.”

Mungkin saat ini kamu merasa tidak cukup layak, tidak cukup siap, atau tidak punya semua yang dibutuhkan. Ingat, Yesaya pun merasa najis bibirnya. Tetapi Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga menyucikan dan memperlengkapi. Jika Dia memanggilmu, Dia sendiri yang akan menguatkan langkahmu.

Pertanyaannya sekarang: maukah kita berkata ya, bahkan sebelum tahu semua detail misi dari Tuhan?

Ya Tuhan, seringkali aku ingin menunggu semua jelas dulu sebelum melangkah. Tapi aku belajar dari Yesaya, bahwa Engkau lebih peduli pada hati yang rela daripada kemampuan yang sempurna. Ubah hatiku supaya berani berkata, “Ini aku, utuslah aku,” meski aku belum tahu semua rencana-Mu. Pimpinlah langkahku, dan biarlah aku setia mengikuti panggilan-Mu. Amin.

🔊 Dengarkan Secara Audio
© 2026 KebenaranHidup.com | Christ Project | Kebijakan Privasi