Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan pilihan. Ada kalanya kita harus berdiam, menunggu, dan tidak melakukan apa-apa selain percaya kepada Tuhan. Namun, ada juga saat di mana kita harus melangkah dengan iman meskipun jalannya belum jelas. Kebijaksanaan sejati terletak pada membedakan kapan waktunya berdiam dan kapan waktunya melangkah.
Alkitab mengajarkan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Artinya, Tuhan memiliki kalender ilahi atas setiap musim dalam hidup kita. Masalahnya, sering kali kita tidak sabar saat Tuhan menyuruh kita diam, atau kita ragu saat Tuhan menyuruh kita maju.
Bangsa Israel di tepi Laut Teberau adalah contoh nyata. Saat Firaun mengejar mereka, bangsa itu panik. Musa berkata, “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Keluaran 14:14). Tetapi pada saat berikutnya, Tuhan berkata kepada Musa, “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat” (Keluaran 14:15). Ada saatnya Tuhan ingin kita diam dan percaya, ada saatnya Tuhan ingin kita melangkah dan taat.
Berdiam bukan berarti pasif, melainkan menenangkan hati dan menunggu instruksi Tuhan. Itulah waktu di mana iman kita bertumbuh, belajar bahwa kendali ada di tangan Allah. Melangkah berarti menanggapi panggilan Tuhan dengan tindakan iman. Ketaatan tanpa menunggu bisa membawa kita salah langkah, tetapi menunggu tanpa ketaatan bisa membuat kita kehilangan kesempatan.
Yesus sendiri menunjukkan ritme ini. Ada saat Ia berdiam untuk berdoa semalaman di bukit (Lukas 6:12), namun ada saat Ia melangkah tegas menghadap salib di Yerusalem (Lukas 9:51). Keseimbangan ini menunjukkan bahwa hidup rohani yang sehat tidak hanya tahu kapan harus diam, tetapi juga tahu kapan harus melangkah.
Jika saat ini engkau bingung apakah harus berdiam atau melangkah, mintalah hikmat dari Roh Kudus. Yakobus 1:5 berkata, “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah… maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Tuhan tidak akan membiarkan kita salah musim bila kita mau mendengarkan suara-Nya.
Tuhan, ajarku membedakan waktu untuk berdiam dan waktu untuk melangkah. Berikan aku hati yang peka, agar aku tidak terburu-buru dengan kekuatanku sendiri, dan tidak terlambat ketika Engkau memanggilku maju. Aku percaya, waktumu selalu yang terbaik. Amin.