“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
Perintah Yesus ini terdengar luar biasa sulit. Bagaimana mungkin kita mengasihi orang yang menyakiti, menghina, atau bahkan mengkhianati kita? Bukankah itu bertentangan dengan naluri alami kita? Tapi justru di sinilah letak keunikan ajaran Kristus. Ia tidak memanggil kita untuk hidup seperti dunia, tapi untuk mencerminkan kasih Allah yang tidak bersyarat.
Mengasihi musuh bukan berarti membiarkan kejahatan terjadi, atau menutup mata terhadap luka yang mereka buat. Tapi mengasihi musuh berarti memilih untuk tidak membalas dendam, tidak menyimpan kebencian, dan tetap mendoakan kebaikan bagi mereka.
Apa saja bentuk praktis mengasihi musuh?
- Mendoakan mereka. Ini langkah awal yang Yesus ajarkan. Mungkin saat berdoa, kamu belum bisa menyebut nama mereka dengan tulus. Tapi mulailah dengan meminta Tuhan untuk mengubah hatimu terlebih dahulu. Doa bukan hanya menggerakkan Tuhan, tapi juga melembutkan hati kita.
- Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Saat difitnah, jangan balas dengan gosip. Saat disakiti, jangan balas dengan sikap dingin. Roma 12:17 berkata, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang.”
- Memberi ruang bagi pemulihan. Mengasihi musuh bukan berarti langsung akrab kembali. Tapi kita membuka pintu, jika suatu hari mereka datang dengan hati yang mau berubah.
Yesus sendiri adalah teladan tertinggi. Di atas kayu salib, saat para musuh-Nya menyalibkan Dia, Ia justru berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Kita mungkin tidak akan sampai ke titik itu seketika, tapi setiap kali kita menolak membalas dengan kebencian, kita sedang berjalan mengikuti jejak-Nya.
Mengasihi musuh bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan kasih ilahi yang telah lebih dulu mengasihi kita saat kita masih menjadi seteru Allah.