Istilah kekerasan suci biasanya merujuk pada tindakan kekerasan yang dibenarkan atas nama Tuhan. Pertanyaannya tegas: apakah kekristenan mengizinkan umat melakukan kekerasan demi agama. Jika kita membaca Alkitab secara utuh, jawabannya juga tegas. Gereja tidak diberi mandat melakukan kekerasan suci. Yesus memanggil murid untuk mengasihi musuh dan membawa damai, sementara otoritas negara memikul pedang untuk menahan kejahatan demi kebaikan bersama, bukan untuk memaksakan iman.
Apa yang Diperintahkan Yesus kepada Murid
Yesus menempatkan etika pribadi murid pada standar tertinggi. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Berbahagialah para pembawa damai (Matius 5:9). Ketika Petrus menghunus pedang di Getsemani, Yesus menegur, “Sarungkan pedangmu, sebab barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” (Matius 26:52). Intinya, murid tidak dipanggil membalas kekerasan dengan kekerasan pribadi. Amarah manusia tidak menghasilkan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20).
Bagaimana Dengan Kisah Perang di Perjanjian Lama
Ada episode peperangan di Israel kuno. Itu terjadi dalam konteks teokrasi yang unik dan sementara, terkait penilaian Allah atas kejahatan serta pembentukan bangsa perjanjian. Gereja Perjanjian Baru bukan negara etnis dan tidak mewarisi kuasa pedang. Identitas umat Allah kini lintas bangsa dan dipanggil menjadi “umat yang mengabarkan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia” melalui kesaksian, bukan kampanye militer. Perjanjian Baru memutar arah konflik: “Peperangan kita bukan melawan darah dan daging” (Efesus 6:12). Senjata kita bukan senjata dunia melainkan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng pemikiran yang menentang pengenalan akan Allah (2 Korintus 10:4-5).
Pedang Negara dan Salib Gereja
Alkitab membedakan etika pribadi murid dari fungsi publik pemerintah. Paulus menulis bahwa penguasa “tidak memegang pedang tanpa alasan” sebagai pelayan Allah untuk menghukum pembuat kejahatan dan memuji yang berbuat baik (Roma 13:1-4). Artinya, penggunaan kekuatan yang sah berada pada otoritas negara untuk keadilan sipil, bukan pada gereja sebagai gereja, dan bukan untuk memaksakan keyakinan. Iman tidak boleh dipaksakan. Para rasul menjadi duta yang membujuk dengan kasih dan kebenaran, bukan militan yang memaksa hati nurani (2 Korintus 5:20).
Apakah Ada Ruang “Perang Adil” atau Justru Pasifisme
Sejak awal sejarah gereja, ada dua tradisi yang berusaha setia pada Alkitab:
- Tradisi perang adil: mengakui kadang negara perlu memakai kekuatan untuk melindungi yang lemah. Prinsipnya antara lain sebab yang benar, otoritas yang sah, proporsionalitas, tujuan damai, dan pembedaan kombatan serta nonkombatan. Prinsip ini tidak memberi lisensi kekerasan suci, melainkan etika membatasi kekerasan dalam ranah kenegaraan, bukan misi gereja.
- Tradisi pasifis: menekankan keteladanan Yesus yang menderita tanpa membalas (1 Petrus 2:23) dan panggilan radikal untuk nonkekerasan.
Keduanya berangkat dari komitmen yang sama kepada Kristus. Yang pasti, keduanya menolak kekerasan atas nama agama untuk memaksakan iman.
Bagaimana Dengan Pembelaan Diri dan Melindungi Sesama
Alkitab memanggil kita mengasihi sesama secara nyata. Ada kebijaksanaan untuk melindungi yang tertindas dan mencegah kejahatan. Namun pembelaan diri bukan dalih untuk balas dendam. Prinsipnya: hindari kekerasan sebisa mungkin, cari jalan damai terlebih dahulu, hormati hukum, dan bila harus bertindak untuk melindungi nyawa, lakukan secara proporsional serta siap mempertanggungjawabkan di hadapan Allah dan hukum. Pembalasan pribadi dilarang: “Pembalasan adalah hak-Ku, firman Tuhan” (Roma 12:19).
Mengapa Kekerasan Suci Bertentangan dengan Injil
Beberapa alasan Alkitabiah:
- Kerajaan Kristus datang melalui salib, bukan pedang. Kristus mati dan bangkit untuk mendamaikan musuh menjadi sahabat Allah, bukan untuk memberi dalih bagi kebencian religius (1 Korintus 15:3-4; Kolose 1:20).
- Misi berjalan lewat kesaksian dan kasih. Gereja menang bukan dengan memaksa, melainkan dengan memberi alasan tentang pengharapan dengan lemah lembut dan hormat (1 Petrus 3:15).
- Yesus menolak pola kekerasan religius. Ketika murid ingin menurunkan api ke sebuah desa, Yesus menegur mereka (Lukas 9:54-55). Roh Kristus menuntun pada pengampunan, bukan penghancuran.
Praktik Gereja: Membawa Damai di Dunia Retak
Bagaimana menghidupinya secara konkret:
- Doakan dan berkati yang memusuhi sesuai perintah Yesus, sekaligus cari jalur rekonsiliasi kreatif (Matius 5:44; Roma 12:18).
- Bangun budaya kebenaran dan keadilan melalui advokasi, pelayanan kepada korban kekerasan, dan kehadiran yang melindungi yang lemah.
- Jagalah ucapan dan media sosial, sebab kekerasan sering dimulai dari kata yang menghasut. Perkataanmu hendaklah penuh kasih (Kolose 4:6).
- Hormati mereka yang mengemban tugas publik seperti polisi dan tentara yang menahan kejahatan, sambil mendorong standar etika yang tinggi sesuai mandat Roma 13.
Kesimpulan
Apakah kekristenan mengizinkan kekerasan suci. Tidak. Gereja dipanggil memikul salib, bukan mengacungkan pedang. Dalam ranah publik, negara berwenang menegakkan keadilan, tetapi itu bukan lisensi untuk memaksakan iman. Peperangan umat adalah rohani, melawan dosa dan kebohongan, bukan melawan manusia berdarah daging (Efesus 6:12). Karena itu, jalan Kristus adalah kasih yang berani, damai yang teguh, dan kebenaran yang tidak memerlukan kekerasan religius untuk berdiri. Di situlah nama Tuhan dimuliakan dan hati manusia paling mungkin berubah.