Pertanyaan tentang puasa sering muncul di masyarakat majemuk: apakah orang Kristen mempunyai praktik puasa seperti agama lain. Jawaban ringkasnya: ya, orang Kristen berpuasa, tetapi bukan sebagai syarat keselamatan, melainkan sebagai disiplin kasih untuk mengarahkan hati kepada Allah. Puasa Kristen berakar dalam Alkitab, berfokus pada Kristus, dan ditujukan untuk pertobatan, doa, kepekaan akan kehendak Tuhan, serta kepedulian kepada sesama.
Apa Kata Yesus Tentang Puasa
Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata, “Apabila kamu berpuasa” lalu mengajar cara yang benar, agar tidak pamer kerohanian, melainkan mencari Bapa yang melihat yang tersembunyi (Matius 6:16-18). Yesus menganggap puasa sebagai praktik yang wajar bagi murid-murid, bukan pertunjukan. Ketika murid Yohanes bertanya mengapa murid Yesus tidak berpuasa, Ia menjawab bahwa ketika mempelai diambil, barulah mereka akan berpuasa (Matius 9:14-15). Artinya, setelah Yesus naik ke surga, gereja akan berpuasa sebagai respons rindu akan hadirat-Nya dan untuk menajamkan doa.
Teladan Gereja Mula-mula
Kitab Kisah Para Rasul menyingkap pola ini. Jemaat di Antiokhia berpuasa saat menyembah Tuhan dan Roh Kudus memisahkan Barnabas serta Saulus untuk misi (Kisah Para Rasul 13:2-3). Para rasul juga berdoa dan berpuasa ketika menetapkan para penatua (Kisah Para Rasul 14:23). Puasa dipakai untuk mencari tuntunan Allah, meneguhkan panggilan, serta mengiringi keputusan pelayanan.
Bukan Syariat, Melainkan Disiplin Kasih
Berbeda dengan sistem keagamaan yang menetapkan kalender puasa sebagai kewajiban hukum, Alkitab tidak memberikan daftar tanggal yang mengikat seluruh gereja lintas budaya. Orang Kristen berpuasa dalam kebebasan yang bertanggung jawab, dipimpin Firman dan Roh. Paulus menolak pola ibadah yang memutlakkan aturan lahiriah tetapi melupakan Kristus (Kolose 2:16-17). Kita tidak diselamatkan oleh puasa, melainkan oleh anugerah melalui iman (Efesus 2:8-9). Puasa adalah sarana, bukan tujuan. Ia membantu kita menundukkan keinginan, menajamkan doa, dan memusatkan hati pada Tuhan.
Apakah Puasa Hanya Soal Makan
Secara klasik, puasa menyangkut menahan diri dari makanan untuk waktu tertentu, sebagaimana teladan Yesus di padang gurun (Matius 4:2). Ada juga puasa parsial seperti yang dilakukan Daniel yang menahan jenis makanan tertentu untuk mencari Tuhan (Daniel 10:3). Dalam penerapan masa kini, ada yang menambahkan bentuk pantang lain seperti menahan diri dari media agar fokus pada doa dan Firman. Prinsipnya tetap sama: menyingkirkan sesuatu yang baik demi memperoleh Yang Terbaik, yaitu Allah sendiri.
Tujuan Rohani Puasa Menurut Alkitab
Pertama, pertobatan yang nyata. Melalui nabi, Tuhan menegaskan puasa yang berkenan disertai keadilan dan belas kasihan, melepaskan belenggu dan berbagi dengan yang lapar (Yesaya 58:6-7). Puasa tanpa kasih adalah kulit tanpa isi.
Kedua, doa yang tekun. Puasa menolong hati berseru lebih dalam, sehingga kita peka pada suara Tuhan, seperti jemaat Antiokhia yang menerima arah misi saat berpuasa dan berdoa (Kisah Para Rasul 13:2-3).
Ketiga, perang rohani dan pengudusan. Paulus menyebutkan menundukkan tubuh agar tidak dikuasai keinginan. Bahkan dalam hal relasi suami istri, ada momen pantang untuk fokus pada doa, dengan kesepakatan bersama dan untuk sementara, lalu kembali seperti semula (1 Korintus 7:5). Puasa melatih disiplin, bukan menghina ciptaan.
Keempat, solidaritas dan pengutusan. Puasa mengingatkan kita pada mereka yang kekurangan, mendorong tindakan nyata menolong sesama, sejalan dengan roh Yesaya 58.
Bahaya Puasa yang Salah Arah
Yesus mengecam puasa yang dipakai untuk pamer. Ia menyoroti orang Farisi yang membanggakan puasanya tetapi merendahkan orang lain, sehingga pulang tidak dibenarkan (Lukas 18:12, dirujuk bersama Lukas 18:9-14). Jika puasa menumbuhkan kesombongan, itu bukan puasa Kristen. Peringatan lain adalah menjadikan puasa alat tawar menawar dengan Allah. Puasa tidak mengubah hati Allah yang penuh kasih, puasa mengubah hati kita agar selaras dengan-Nya.
Kapan Sebaiknya Kita Berpuasa
- Saat bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah, menyesali dosa dan memohon pemulihan hati (Yoel 2:12).
- Saat memohon hikmat atas keputusan penting, pelayanan, panggilan kerja, atau kepemimpinan jemaat (Kisah Para Rasul 14:23).
- Saat berdoa syafaat bagi yang menderita, memohon keadilan dan damai bagi kota.
- Saat menumbuhkan kehausan akan Tuhan, memperbarui kasih mula mula agar injil kembali menjadi pusat.
Cara Praktis Memulai Puasa Dengan Sehat
Mulailah sederhana, misalnya melewatkan satu kali makan sambil mengganti waktu itu dengan doa dan pembacaan Alkitab. Tetapkan tujuan rohani yang jelas, bukan sekadar menahan lapar. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, berkonsultasilah dengan tenaga medis. Sertakan sedekah dan perbuatan kasih sebagai ekspresi puasa yang berkenan kepada Tuhan, sesuai roh Yesaya 58. Dan akhiri puasa dengan syukur serta komitmen baru untuk hidup kudus.
Penutup
Apakah orang Kristen berpuasa seperti agama lain. Ya, orang Kristen berpuasa, tetapi dengan makna yang dibentuk Injil. Puasa Kristen tidak mencari pujian manusia, tidak menjadi syarat keselamatan, melainkan jalan kasih untuk merendahkan diri, menajamkan doa, dan mengasihi sesama. Ketika puasa dijalani dengan roh pertobatan, Kristosentris, dan disertai ketaatan, Tuhan memakai disiplin ini untuk memperbarui hati dan menuntun gereja pada kehendak-Nya.