Pertanyaan tentang keaslian Injil Barnabas sering muncul ketika orang mendengar bahwa ada “injil lain” di luar empat Injil kanonik. Benarkah Injil Barnabas lebih dekat ke sumber asli tentang Yesus, sehingga layak menggantikan atau menandingi Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Untuk menjawabnya, mari menimbang data naskah, isi, konteks sejarah, dan prinsip penilaian gereja mula-mula.
Membedakan “Barnabas” Yang Mana
Dalam Alkitab, Barnabas adalah rekan pelayanan Paulus, seorang Lewi dari Siprus yang dijuluki “anak penghiburan” karena teladan imannya (Kisah Para Rasul 4:36, Kisah Para Rasul 11:22-26). Di luar Alkitab, ada tulisan kuno bernama Surat Barnabas yang beredar awal abad kedua. Itu bukan Injil naratif, melainkan traktat pengajaran, dan sekalipun dihargai sebagian jemaat, ia tidak masuk kanon. “Injil Barnabas” yang dibicarakan orang zaman ini adalah naskah berbeda, isinya berupa kisah hidup Yesus namun tidak berasal dari abad pertama. Membedakan tiga hal ini sangat penting agar diskusi tidak bertumpuk pada istilah yang sama tetapi objek yang berbeda.
Jejak Naskah Dan Penanggalan
Empat Injil kanonik bersandar pada tradisi rasuli dan saksi mata. Lukas menulis setelah “menyelidiki segala peristiwa dengan seksama dari asal mulanya” agar pembaca “mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Lukas 1:1-4). Para saksi berkata, “apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami” (1 Yohanes 1:1), serta menolak “dongeng isapan jempol belaka” (2 Petrus 1:16).
Sebaliknya, Injil Barnabas yang kita kenal dalam sejarah muncul dalam naskah bahasa Italia dan Spanyol yang bertanggal akhir Abad Pertengahan hingga awal zaman modern, jauh setelah para rasul. Jejak manuskripnya tidak ditemukan dalam daftar bacaan ibadah gereja awal, tidak dikutip Bapa Gereja sebagai otoritatif, dan tidak hadir dalam perdebatan kanon yang intens di tiga abad pertama. Dengan kata lain, secara sejarah naskah ini terlampau muda untuk menandingi kedekatan waktu dan saksi empat Injil.
Isi Yang Bertentangan Dan Jejak Anachronism
Kanon empat Injil menempatkan salib dan kebangkitan sebagai pusat karya keselamatan. Paulus menegaskan kabar yang ia terima dan terus ia sampaikan, bahwa Kristus mati dan bangkit, disaksikan banyak orang, bagian dari tradisi paling awal yang dipegang gereja (1 Korintus 15:3-6 disinggung sebagai latar teologis). Injil Barnabas memuat narasi yang bertentangan dengan kesaksian ini, termasuk gambaran tentang Yesus dan karya-Nya yang tidak sejalan dengan berita rasuli. Selain itu, isinya memuat anekronisme, yaitu detail yang cocok dengan praktik dan istilah Abad Pertengahan, bukan dunia Yahudi abad pertama. Ciri seperti ini menandakan bahwa penulisnya hidup di era jauh kemudian, sehingga sulit dianggap sebagai saksi awal peristiwa.
Mengapa Empat Injil Dipercaya Gereja
Gereja mula-mula menimbang tulisan berdasarkan tiga lensa.
Pertama, apostolisitas, yaitu kedekatan dengan para rasul atau lingkaran saksi mata. Yohanes menegaskan dimensi kesaksian langsung itu, “kami telah melihat dan kami bersaksi” (1 Yohanes 1:2).
Kedua, keselarasan dengan aturan iman, yaitu kabar baik yang sama yang telah diberitakan sejak mula. Paulus berkata, sekalipun malaikat datang membawa injil lain, itu harus ditolak tegas (Galatia 1:8).
Ketiga, penerimaan luas dalam ibadah jemaat, karena firman yang diilhamkan Allah berguna membangun umat dalam kebenaran agar siap melakukan tiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17).
Empat Injil melewati ujian ini. Mereka lahir paling awal, selaras satu sama lain dalam inti berita, dan dibacakan luas di gereja lintas wilayah. Di sisi lain, Injil Barnabas tidak memenuhi ketiganya.
Apakah Gereja “Menyembunyikan” Naskah Itu
Gereja tidak menutup rapat tulisan non kanonik. Justru teks seperti itu terus diselidiki secara terbuka. Catatan sejarah, studi filologi, dan kritik teks dipublikasikan supaya semua orang dapat menilai. Yang dilakukan gereja bukan menyembunyikan, melainkan membedakan mana yang setia pada kesaksian rasuli dan mana yang tidak. Prinsip Berea tetap relevan, menguji segala sesuatu dan berpegang pada yang baik, agar jemaat tidak mudah diombang-ambingkan oleh sensasi naskah.
Bagaimana Sikap Iman Yang Sehat
Pertama, hargai data sejarah. Tuhan bekerja dalam ruang dan waktu, sehingga kedekatan saksi itu penting. Kedua, pegang inti Injil. Salib dan kebangkitan Kristus adalah pusat keselamatan, fondasi yang diteguhkan Alkitab di banyak tempat. Ketiga, baca dengan akal budi dan hati, sebab Tuhan memanggil kita mengasihi Dia dengan segenap akal budi dan hidup yang taat. Dengan demikian, kita tidak mudah terpesona oleh klaim “lebih asli” yang tidak didukung bukti.
Kesimpulan
Apakah Injil Barnabas lebih asli. Tidak. Injil Barnabas bukan sumber abad pertama dan tidak lebih asli dari Injil kanonik. Jejak naskahnya muda, isinya bertentangan dengan kesaksian rasuli, dan memuat anekronisme yang mengungkap asalnya yang kemudian. Empat Injil diterima bukan karena konspirasi, tetapi karena kesaksian mereka paling dekat dengan para saksi, selaras dengan aturan iman, serta membangun gereja sejak awal. Di dalamnya kita mengenal Yesus yang hidup, Tuhan dan Juruselamat, sebagaimana diberitakan sejak mula dan terus memerdekakan hingga kini.