Pertanyaan ini biasanya muncul dalam dua konteks. Pertama, di antara sesama orang Kristen dari denominasi yang berbeda. Kedua, ketika membandingkan Kekristenan dengan agama-agama Abrahamik lain. Untuk menjawabnya dengan jernih, kita perlu menengok pengakuan iman Alkitab, sejarah gereja, dan cara Alkitab berbicara tentang Allah.
Di Antara Denominasi Kristen: Satu Allah, Satu Pengakuan Inti
Di balik perbedaan liturgi, gaya ibadah, atau penekanan teologi sekunder, orang Kristen menyembah Allah yang Esa yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ini pusat iman yang dirangkum Matius 28:19, ketika Yesus memerintahkan baptisan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ke-Esaan Allah ditegaskan dalam Ulangan 6:4 dan dikaidahkan dalam hidup gereja, sementara keilahian Kristus tampak dari kesaksian seperti Yohanes 1:1 dan Yohanes 10:30. Paulus menutup salamnya dengan formula trinitaris yang khas dalam 2 Korintus 13:13.
Artinya, Katolik, Ortodoks, dan berbagai gereja Protestan yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta Roh Kudus sebagai Pribadi ilahi menyembah Tuhan yang sama. Perbedaan terjadi pada hal-hal turunan seperti tata ibadah, pandangan sakramen, atau struktur gereja, tetapi pusatnya tetap satu. Paulus merangkum, “Satu tubuh dan satu Roh… satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua” (Efesus 4:4-6).
Mengapa Ada Anggapan “Kristen Menyembah Tiga Tuhan”
Ini salah paham yang sering muncul. Iman Kristen adalah monoteistik. Gereja tidak mengajarkan tiga Allah, melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi yang kekal dan sehakikat. Bukan tiga pusat kuasa yang berdiri sendiri, tetapi satu hakikat ilahi yang dihayati dalam komunitas kasih kekal. Karena itu, ketika orang Kristen menyembah Yesus, mereka tidak berpindah kepada ilah lain, melainkan memuliakan Allah yang menyatakan diri di dalam Sang Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:14).
Dengan Agama Abrahamik Lain: Ada Acuan Historis yang Sama, Ada Pengenalan yang Berbeda
Pertanyaan “apakah menyembah Tuhan yang sama” sering juga diarahkan pada relasi Kekristenan dengan Yudaisme.
Dengan Yudaisme: Kekristenan berdiri di atas Allah yang menyatakan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Yesus dan para rasul adalah orang Yahudi dan mengakui Kitab Suci Israel. Perbedaannya, orang Kristen percaya nubuat digenapi dalam Yesus Mesias yang mati dan bangkit (Lukas 24:44-47; 1 Korintus 15:3-4). Jadi acuan historisnya sama, tetapi pengenalan Kristen melihat puncak wahyu Allah di dalam Kristus.
Cara yang adil untuk merangkum adalah ini: secara historis ada rujukan menuju Pencipta yang sama, tetapi Kekristenan mengaku Allah yang sama itu telah menyatakan diri secara penuh dalam Yesus Kristus. Karena itu, orang Kristen akan berkata bahwa penyembahan yang sejati harus “dalam roh dan kebenaran” yang dipenuhi terang Kristus (Yohanes 4:24).
Ukuran Alkitabiah: Siapa Yesus di Pusat Ibadah
Alkitab menempatkan Kristus sebagai batu ujian. “Tidak ada nama lain di bawah langit yang olehnya kita diselamatkan” selain nama Yesus (Kisah Para Rasul 4:12). Mengakui Yesus adalah Tuhan bukan sekadar label teologis, tetapi pengakuan penyembahan yang menjadi pusat ibadah gereja (Filipi 2:10-11). Karena itu, sekalipun ada persinggungan istilah tentang Allah yang Esa, orang Kristen menentukan “apakah menyembah Tuhan yang sama” dari bagaimana kita mengenal dan memuliakan Yesus.
Sikap yang Bijak: Jelas di Doktrin, Lembut di Relasi
Alkitab mendorong kita teguh pada kebenaran sekaligus lembut kepada sesama. 1 Petrus 3:15 meminta kita siap memberi jawaban dengan lemah lembut dan hormat. Itu berarti kita bisa mengakui persamaan tertentu demi dialog, tanpa mengaburkan pusat Injil. Di ranah publik, orang Kristen membangun kerja sama pada nilai bersama seperti keadilan dan kasih kepada sesama. Di ranah ibadah, orang Kristen memelihara pengakuan yang khas tentang Allah Tritunggal dan keselamatan di dalam Kristus.
Kesimpulan
Apakah orang Kristen menyembah Tuhan yang sama. Di dalam kekristenan arus utama, jawabnya ya, kita menyembah Tuhan yang sama yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dengan agama Abrahamik lain, ada acuan historis menuju Pencipta yang sama, tetapi pengenalan Kristen berbeda secara esensial karena menempatkan Yesus Kristus sebagai puncak wahyu dan pusat penyembahan. Ukuran akhirnya sederhana sekaligus menuntut: siapa Yesus bagi kita. Di situlah iman Kristen berdiri, menyembah Allah yang Esa yang nyata di dalam Kristus, serta dipimpin Roh Kudus untuk hidup dalam kasih dan kebenaran.