Kita sering mendengar nasihat seperti, “Jangan negatif terus, tetap berpikir positif!” atau “Iman itu harus selalu optimis!” Tapi, apakah benar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus selalu terlihat kuat, bahagia, dan positif dalam segala situasi?
Faktanya, Alkitab penuh dengan tokoh-tokoh yang menghadapi kesedihan, ketakutan, bahkan keputusasaan. Lihat saja Daud dalam Mazmur. Berkali-kali ia mencurahkan kesedihan dan kegundahannya kepada Tuhan, seperti dalam Mazmur 6:7, “Aku telah letih karena mengeluh; setiap malam aku membasahi tempat tidurku, dengan air mata aku membanjiri ranjangku.” Apakah Daud kekurangan iman? Tentu tidak. Justru itulah bukti kedekatannya dengan Tuhan karena ia tahu kepada siapa ia harus membawa luka hatinya.
Tidak Selalu Positif, Tapi Selalu Bersandar
Kehidupan orang Kristen bukan tentang menutupi rasa sakit dengan senyum palsu. Bukan juga tentang menyangkal kenyataan pahit yang sedang kita jalani. Paulus sendiri menulis dalam 2 Korintus 1:8 bahwa dia mengalami tekanan berat di luar kekuatannya hingga merasa putus asa. Namun, di tengah rasa putus asa itu, ia tidak melepaskan imannya. Ia justru menemukan kekuatan yang datang dari Tuhan.
Jujur dengan Tuhan adalah Bentuk Iman
Terkadang, kita merasa bersalah ketika tidak bisa “berpikir positif”. Kita takut orang akan menilai iman kita lemah jika mengungkapkan kesedihan atau ketakutan. Padahal, menjadi jujur di hadapan Tuhan adalah bentuk iman yang tulus. Tuhan tidak mencari topeng kebahagiaan. Dia mencari hati yang mau bersandar pada-Nya, bahkan saat sedang terluka.
Dalam Yesaya 42:3 dikatakan, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan.” Ini menggambarkan kasih Tuhan yang penuh kelembutan. Ia tidak menuntut kita selalu kuat, tapi mengundang kita untuk datang kepada-Nya ketika kita lemah.
Jadi, Haruskah Kita Selalu Positif?
Tidak harus. Yang penting adalah tetap melekat kepada Tuhan, meski suasana hati sedang kelabu. Tidak apa-apa menangis, kecewa, takut, dan marah selama kita membawanya ke kaki Tuhan. Sebab sukacita sejati bukan berasal dari pikiran positif semata, tetapi dari pengharapan yang hidup di dalam Kristus.
Tuhan tidak mencari senyum palsu, tetapi hati yang mau tetap percaya, walau dunia sedang gelap.