Dunia saat ini penuh dengan pesan seperti “ikuti kata hatimu”, “lakukan yang membuatmu bahagia”, atau “hidup itu tentang kamu”. Sekilas terdengar membebaskan. Tapi jika tidak hati-hati, kita bisa tergelincir ke dalam kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, bukan pada Tuhan.
Sebagai orang percaya, kita perlu bertanya: Apakah tujuan hidupku benar-benar untuk menyenangkan Tuhan, atau aku hanya membungkus ambisiku sendiri dengan label rohani?
Yesus berkata dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Kata “menyangkal diri” di sini bukan berarti membenci diri sendiri, tapi menggeser pusat hidup dari “aku” ke “Kristus”.
Hidup untuk menyenangkan diri sendiri akan selalu membuat kita lelah. Kita terus-menerus mengejar validasi, kenyamanan, dan keberhasilan yang tidak pernah cukup. Tapi hidup untuk menyenangkan Tuhan membawa kedamaian yang sejati, karena kita tahu siapa yang kita layani dan untuk siapa kita hidup.
Rasul Paulus berkata dengan sangat jelas dalam Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini adalah pengakuan bahwa hidup yang sejati dimulai saat kita berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat.
Hidup untuk menyenangkan Tuhan bukan berarti hidup tanpa sukacita. Justru sebaliknya, di dalam ketaatan kepada-Nya, kita menemukan sukacita yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat. Dalam Mazmur 37:4 dikatakan, “Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Ini bukan janji bahwa Tuhan akan memberi semua yang kita mau, tapi bahwa ketika kita bersukacita di dalam-Nya, keinginan hati kita akan selaras dengan kehendak-Nya.
Mari periksa motivasi kita hari ini. Apakah keputusan, ambisi, dan arah hidup kita sedang diarahkan untuk menyenangkan hati Tuhan, atau hanya memuaskan ego kita sendiri? Kadang, jalan yang menyenangkan Tuhan tidak populer, tidak mudah, dan tidak langsung terlihat hasilnya. Tapi jalan itu selalu benar, selalu damai, dan selalu bernilai kekal.
Tuhan, ajarku untuk tidak hidup demi diriku sendiri. Bentuk hatiku untuk semakin rindu menyenangkan-Mu, bukan mengejar kepuasan sesaat. Aku percaya, ketika aku hidup untuk-Mu, aku akan menemukan hidup yang sesungguhnya. Amin.