Kita sering merasa iman kita terlalu kecil untuk mengubah sesuatu. Terlalu lemah untuk melawan kekhawatiran. Terlalu rapuh untuk menghadapi badai hidup. Namun, tahukah kamu bahwa iman sekecil apapun, jika diletakkan pada Tuhan yang besar, dapat menggerakkan gunung?
Yesus berkata, “Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindahlah dari tempat ini ke sana maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20)
Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil, nyaris tak terlihat di telapak tangan. Tapi Yesus sengaja menggunakan perumpamaan itu untuk menyatakan satu kebenaran penting: bukan seberapa besar imanmu, tetapi seberapa besar Tuhan yang kamu percayai.
Dalam kehidupan nyata, kita tak selalu bisa memiliki iman yang besar setiap saat. Ada masa-masa di mana kita hanya bisa berdoa dengan suara lemah, “Tuhan, tolong aku.” Ada waktu ketika iman kita bukanlah teriakan percaya diri, tetapi bisikan penuh air mata. Namun, Tuhan tidak menghina iman yang kecil. Justru Ia menghargainya, selama iman itu ditaruh kepada-Nya.
Lihat saja kisah perempuan yang sakit pendarahan dua belas tahun (Markus 5:25-34). Ia tidak datang dengan iman besar. Ia tidak membuat deklarasi luar biasa. Ia hanya berpikir dalam hati, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dan Tuhan memulihkannya. Imannya kecil, tapi Tuhan yang ia jamah sangat besar.
Iman sejati bukan tentang tidak pernah takut, tapi tentang terus memilih percaya meski ada ketakutan. Bahkan ketika hati penuh keraguan, jika kita tetap datang kepada Tuhan dan berserah, itu sudah menjadi langkah iman yang berharga.
Tuhan tidak mencari orang yang selalu kuat, tapi yang tetap datang kepada-Nya meski lemah. Ia tidak menunggu sampai iman kita sempurna. Ia menanti hati yang mau percaya walau sedikit, karena Ia tahu bahwa di tangan-Nya, sedikit pun bisa menjadi luar biasa.
Hari ini, jangan remehkan imanmu hanya karena rasanya kecil. Tuhan yang kamu percayai jauh lebih besar daripada apapun yang kamu hadapi. Berani percayakan hidupmu kepada-Nya, meski langkahmu gemetar. Sebab yang penting bukan seberapa kuat kakimu, tapi kepada siapa kamu melangkah.