Ada banyak orang Kristen yang merasa belum layak dipakai Tuhan karena merasa dirinya belum cukup rohani, belum cukup suci, atau belum cukup sempurna. Padahal, kalau kita melihat Alkitab, hampir semua tokoh besar yang dipakai Tuhan bukanlah orang yang sempurna. Allah tidak menunggu manusia sempurna untuk bekerja, tetapi Ia menyempurnakan orang yang mau taat kepada-Nya.
Musa adalah contoh nyata. Ia pernah membunuh orang Mesir dan melarikan diri ke padang gurun (Keluaran 2:12-15). Namun justru Musa dipanggil Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Petrus, murid Yesus, pernah menyangkal Yesus tiga kali (Lukas 22:61-62). Tetapi kemudian, Petruslah yang dipakai Tuhan untuk berkhotbah di hari Pentakosta, di mana tiga ribu orang bertobat (Kisah Para Rasul 2:41). Paulus, yang dulu dikenal sebagai Saulus, bahkan pernah menganiaya jemaat Tuhan. Namun justru ia dipakai menjadi rasul besar yang menulis sebagian besar surat dalam Perjanjian Baru (1 Timotius 1:12-13).
Apa persamaannya? Mereka bukan orang sempurna, tetapi mereka mau bertobat, taat, dan dipimpin oleh Tuhan. Inilah kuncinya: bukan soal siapa kita, melainkan siapa Tuhan yang memanggil kita.
Sering kali musuh berusaha menanamkan kebohongan bahwa kita harus “lebih suci dulu” atau “lebih siap dulu” baru bisa melayani Tuhan. Namun, Firman Tuhan berkata dalam 2 Korintus 12:9, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Artinya, kelemahan kita bukan penghalang, melainkan tempat di mana kuasa Tuhan dapat nyata.
Kalau kita menunggu sempurna, mungkin kita tidak akan pernah melangkah. Tetapi saat kita melangkah dengan iman, Tuhanlah yang akan menyempurnakan setiap kekurangan kita. Sama seperti seorang tukang periuk membentuk tanah liat, Tuhan pun membentuk hidup kita dalam proses. Yeremia 18:6 berkata, “Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.”
Jadi, jangan takut dipakai Tuhan meskipun masih merasa lemah. Yang Tuhan cari adalah hati yang mau taat, bukan kesempurnaan. Tuhan tidak menunggu kita sempurna, tetapi Ia memanggil kita untuk mau dipakai, dan di perjalanan itu Ia yang menyempurnakan.
Tuhan Yesus, aku tahu aku masih banyak kekurangan. Namun aku percaya Engkau sanggup memakai hidupku apa adanya untuk kemuliaan-Mu. Bentuk aku, pakai aku, dan sempurnakan aku dalam kasih karunia-Mu. Amin.