Banyak orang menunda ketaatan kepada Tuhan dengan alasan belum siap. Ada yang berkata, “Nanti kalau hidupku sudah lebih baik, aku akan melayani,” atau, “Kalau imanku sudah kuat, aku baru mau taat.” Padahal, ketaatan sejati bukan menunggu semua kondisi sempurna, tetapi memilih melakukan kehendak Tuhan saat ini juga.
Dalam Alkitab, kita melihat banyak tokoh yang dipanggil Tuhan saat mereka belum merasa siap. Musa merasa tidak pandai berbicara ketika dipanggil untuk memimpin Israel (Keluaran 4:10). Yeremia merasa terlalu muda untuk menjadi nabi (Yeremia 1:6). Bahkan Petrus merasa tidak layak ketika Yesus memanggilnya (Lukas 5:8-10). Namun, Tuhan tidak menunggu mereka menjadi sempurna terlebih dahulu. Ia memanggil mereka apa adanya, lalu memampukan mereka seiring langkah iman yang mereka ambil.
Menunda ketaatan seringkali membuat kita kehilangan kesempatan untuk melihat mujizat Tuhan. Ketika Abraham diminta untuk pergi ke negeri yang belum pernah ia lihat (Kejadian 12:1-4), ia langsung berangkat tanpa tahu persis tujuannya. Ketaatan seperti inilah yang menunjukkan iman sejati, percaya bahwa Tuhan lebih tahu jalan terbaik, bahkan ketika kita tidak melihat gambaran utuhnya.
Ketaatan bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang kepercayaan. Saat kita melangkah, Roh Kudus yang akan membentuk, menguatkan, dan memimpin kita. Filipi 2:13 berkata, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Artinya, Tuhan bukan hanya memanggil, tetapi juga memberi kemampuan untuk menaati-Nya.
Jadi, jika Tuhan sudah menaruh sesuatu di hati kita baik itu untuk melayani, mengampuni, memulai kebiasaan rohani, atau mengambil langkah iman, jangan tunggu sampai kita merasa siap.
Tuhan, ampuni aku jika aku sering menunda untuk taat karena merasa belum mampu. Aku mau belajar melangkah dengan iman, percaya bahwa Engkau yang memanggilku juga akan memampukanku. Tolong aku untuk taat sekarang, bukan nanti.