Banyak orang mengatakan mereka mengasihi, tetapi sering kali ada syarat di baliknya. Kasih manusia cenderung dipengaruhi oleh perlakuan dan situasi. Jika orang tersebut menyenangkan kita, kita akan mengasihi; jika melukai, kita menjauh. Namun, kasih Tuhan berbeda. Kasih-Nya tidak bergantung pada perilaku kita, melainkan pada sifat-Nya yang adalah kasih itu sendiri (1 Yohanes 4:8).
Kisah Yesus di salib adalah bukti paling kuat. Ia mengasihi bahkan ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Tidak ada prasyarat, tidak ada kontrak timbal balik. Dia tidak menunggu kita berubah dulu baru mengasihi, tetapi mengasihi supaya kita mau berubah.
Kasih tanpa syarat berarti menerima seseorang apa adanya, sambil tetap menginginkan yang terbaik bagi mereka. Ini bukan berarti kita membenarkan kesalahan, tetapi kita memilih untuk tetap mengasihi walau dikecewakan. Sulit? Tentu saja. Bahkan murid-murid Yesus pun kesulitan mengampuni dan mengasihi orang yang menyakiti mereka. Tetapi kasih sejati selalu berawal dari Tuhan.
Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Ini melawan naluri alami manusia. Tetapi ketika kita mengizinkan Roh Kudus bekerja di hati kita, kita dimampukan untuk mengasihi dengan cara yang tidak mungkin secara manusia.
Mengasihi tanpa syarat adalah tanda kedewasaan rohani. Kita tidak lagi mengasihi hanya untuk menerima balasan, tetapi karena kita sudah terlebih dahulu menerima kasih yang sempurna dari Allah. Saat kita gagal mengasihi, kita diingatkan untuk kembali pada sumber kasih itu sendiri, yaitu Tuhan.
Tuhan, ajar aku mengasihi seperti Engkau mengasihi. Ketika hatiku ingin membalas sakit hati dengan sakit hati, ingatkan aku akan salib-Mu. Mampukan aku untuk tetap memberi kasih walau tidak dibalas, dan mengampuni walau tidak diminta maaf. Biarlah kasih-Mu nyata melalui hidupku. Amin.