Pertanyaan ini muncul dari kegelisahan rohani yang wajar. Di satu sisi, Alkitab menegaskan bahwa Allah adalah satu. Di sisi lain, Kekristenan mengajarkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena itu, muncul kelompok atau denominasi yang memilih menyembah Bapa saja, dengan alasan bahwa jika fokus kepada Yesus, penyembahan kepada Bapa bisa “tertutupi” atau “tergeser”. Lalu muncul pertanyaan besar: mana yang benar menurut Alkitab?
Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri akar pemikiran ini, lalu membandingkannya secara jujur dengan kesaksian Kitab Suci secara utuh.
Akar Pemikiran Menyembah Bapa Saja
Kelompok yang menekankan penyembahan hanya kepada Bapa biasanya berangkat dari dua kekhawatiran utama. Pertama, keinginan menjaga monoteisme murni, bahwa hanya ada satu Allah. Kedua, ketakutan bahwa memuliakan Yesus secara eksplisit akan menjadikan Yesus seolah-olah Allah lain yang terpisah dari Bapa.
Mereka sering mengutip perkataan Yesus sendiri, seperti Yohanes 4:23, bahwa Bapa mencari penyembah-penyembah yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Atau Yohanes 17:3, ketika Yesus menyebut Bapa sebagai satu-satunya Allah yang benar. Dari sini, muncul kesimpulan bahwa fokus utama ibadah harus kepada Bapa, dan Yesus dipahami terutama sebagai utusan atau perantara.
Namun pertanyaannya bukan apakah Bapa layak disembah. Itu jelas, Ya. Pertanyaannya adalah apakah Alkitab membatasi penyembahan hanya kepada Bapa dan mengecualikan Yesus.
Kesaksian Alkitab tentang Hubungan Bapa dan Anak
Alkitab tidak pernah memisahkan Bapa dan Anak dalam cara yang kompetitif. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 10:30, Aku dan Bapa adalah satu. Pernyataan ini bukan sekadar kesatuan tujuan, tetapi kesatuan keberadaan, yang membuat orang-orang Yahudi pada waktu itu menganggap Yesus menghujat.
Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata bahwa tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Ini bukan berarti Yesus menghalangi penyembahan kepada Bapa, tetapi justru menjadi jalan menuju Bapa. Menolak Yesus demi menjaga penyembahan kepada Bapa justru bertentangan dengan perkataan Yesus sendiri.
Lebih jauh lagi, Yohanes 5:23 menyatakan bahwa semua orang harus menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Ayat ini sangat tegas. Mengurangi kehormatan kepada Anak berarti tidak menghormati Bapa. Jadi, secara alkitabiah, penyembahan kepada Yesus tidak pernah mengaburkan penyembahan kepada Bapa, melainkan menggenapinya.
Yesus Tidak Menggeser Bapa, Justru Menyatakan Bapa
Yesus tidak pernah datang untuk menarik perhatian kepada diri-Nya secara terpisah dari Bapa. Dalam Yohanes 14:9, Ia berkata, barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Ini berarti Yesus adalah penyataan sempurna tentang siapa Bapa itu.
Kekhawatiran bahwa menyembah Yesus akan “mengaburkan” Bapa muncul ketika Yesus dipahami terpisah dari natur ilahi-Nya. Namun Alkitab menunjukkan bahwa mengenal Yesus dengan benar justru membawa seseorang kepada pengenalan yang lebih dalam tentang Bapa.
Ibrani 1:3 menyatakan bahwa Anak adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Artinya, tidak ada konflik identitas antara Bapa dan Anak. Yang ada adalah kesatuan ilahi yang dinyatakan melalui relasi.
Penyembahan kepada Yesus dalam Gereja Mula-Mula
Menariknya, gereja mula-mula yang paling dekat dengan para rasul tidak ragu menyembah Yesus. Dalam Filipi 2:9-11, Paulus menuliskan bahwa Allah meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.
Perhatikan penekanan akhirnya. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan berujung pada kemuliaan Allah Bapa, bukan sebaliknya. Ini menghancurkan anggapan bahwa memuliakan Yesus mengurangi kemuliaan Bapa.
Dalam Wahyu 5:13, seluruh ciptaan menyembah Dia yang duduk di atas takhta dan Anak Domba. Penyembahan ini bersifat bersama, bukan terpisah. Tidak ada kecemburuan ilahi di antara Bapa dan Anak.
Di Mana Letak Kesalahan Pemahaman
Kesalahan utama dari pandangan menyembah Bapa saja terletak pada pemahaman yang tidak utuh tentang Allah Tritunggal. Alkitab tidak mengajarkan tiga Allah, tetapi satu Allah dalam relasi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Ketika seseorang berkata, saya hanya menyembah Bapa agar tidak salah arah, tetapi menolak menyembah Yesus, ia sebenarnya sedang menolak cara Allah menyatakan diri-Nya sendiri. 1 Yohanes 2:23 menyatakan bahwa setiap orang yang menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa.
Ini bukan soal istilah liturgi, tetapi soal pengenalan akan Allah yang sejati.
Mana yang Benar Menurut Alkitab
Alkitab tidak memberi pilihan antara menyembah Bapa atau menyembah Yesus. Alkitab memanggil orang percaya untuk menyembah Allah yang menyatakan diri-Nya melalui Anak. Menyembah Yesus tidak menggantikan Bapa, dan menyembah Bapa tidak mungkin dilepaskan dari Anak.
Yesus sendiri mengajarkan bahwa penyembahan sejati bukan soal alamat yang salah, tetapi soal kebenaran. Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Kebenaran itu dinyatakan dalam Kristus.
Kesimpulan
Adanya denominasi yang menyembah Bapa saja lahir dari keinginan menjaga kemurnian iman, tetapi jatuh pada pemahaman yang tidak lengkap tentang kesaksian Alkitab. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa menghormati dan menyembah Yesus tidak mengaburkan Bapa, melainkan memuliakan-Nya.
Yang benar menurut Alkitab adalah menyembah Allah melalui Yesus Kristus, karena Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Menolak Anak demi Bapa bukanlah kesetiaan, melainkan kehilangan inti pewahyuan Allah itu sendiri.
Penyembahan Kristen sejati bukan memilih salah satu pribadi ilahi, tetapi hidup dalam relasi yang benar dengan Allah yang esa, yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, melalui Anak, oleh kuasa Roh Kudus.