Setiap orang pasti pernah bertemu dengan pribadi yang sulit: bisa itu rekan kerja yang keras kepala, anggota keluarga yang penuh tuntutan, atau bahkan saudara seiman yang karakternya menguji kesabaran kita. Menariknya, seringkali justru orang-orang seperti inilah yang Tuhan pakai untuk membentuk karakter kita. Amsal 27:17 berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Tuhan bisa saja membentuk kita lewat cara yang “nyaman” melalui pengajaran firman, doa, atau teladan orang baik. Namun, pembentukan yang paling dalam biasanya terjadi melalui gesekan. Sama seperti besi tidak bisa ditajamkan dengan kain lembut, demikian juga iman dan karakter kita tidak akan terbentuk jika tidak pernah diuji.
Menghadapi orang yang sulit membuat kita belajar hal-hal yang mungkin tidak bisa kita pelajari hanya lewat teori. Kita belajar sabar ketika menghadapi orang yang emosional. Kita belajar rendah hati ketika berurusan dengan orang yang sombong. Kita belajar mengampuni ketika dikhianati. Dengan kata lain, orang-orang yang sulit adalah “cermin” yang Tuhan izinkan hadir, agar kita melihat bagian mana dari hati kita yang masih perlu dibentuk.
Yesus sendiri pernah menghadapi banyak orang yang sulit. Para ahli Taurat yang selalu mencari kesalahan, murid-murid yang lambat mengerti, bahkan Yudas yang mengkhianati-Nya. Tetapi, Yesus tidak menjauhi mereka hanya karena mereka sulit. Ia justru menunjukkan kasih, kesabaran, dan ketaatan kepada Bapa lewat respon-Nya.
Kabar baiknya, orang yang sulit tidak harus selalu membuat kita pahit. Jika kita mau melihatnya dengan perspektif rohani, mereka bisa menjadi “alat pengasah” yang menolong kita makin serupa dengan Kristus. Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita. Bisa jadi, keberadaan mereka adalah bagian dari rencana-Nya untuk memperluas hati kita dan menguatkan iman kita.
Hari ini, jika engkau sedang bergumul dengan seseorang yang terasa “menguras tenaga,” jangan buru-buru berdoa agar orang itu dihilangkan dari hidupmu. Sebaliknya, tanyakan: Tuhan, apa yang sedang Engkau ajarkan lewat situasi ini?
Karakter tidak terbentuk di zona nyaman, tetapi di tengah gesekan. Dan seringkali, orang yang paling kita anggap mengganggu justru adalah alat Tuhan untuk membawa kita lebih dekat pada gambar Kristus.
Bapa, aku mengaku bahwa aku sering kesal dan marah menghadapi orang-orang yang sulit. Tapi hari ini aku belajar, Engkau bisa memakainya untuk membentukku. Ajarku untuk sabar, rendah hati, dan mengampuni. Jangan biarkan aku kehilangan pelajaran berharga hanya karena aku menolak pembentukan-Mu. Amin.