Ketika kita berhadapan dengan keputusan besar dalam hidup, seringkali logika dan iman seakan-akan berdiri di sisi yang berlawanan. Logika berkata, “Lihat datanya, pikirkan risikonya,” sementara iman berbisik, “Percayalah, walau belum terlihat jalannya.” Lalu, bagaimana kita menavigasi kehidupan ketika dua hal ini saling bertabrakan?
Dalam dunia yang sangat rasional, iman sering dianggap tidak masuk akal. Misalnya, ketika seseorang memutuskan meninggalkan pekerjaan bergaji besar untuk melayani di ladang Tuhan, banyak orang akan berkata itu keputusan bodoh. Tapi bukankah itu juga yang dilakukan Abraham? Ia meninggalkan negeri dan kenyamanannya hanya karena firman Tuhan yang berkata, “Pergilah dari negerimu… ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kejadian 12:1). Tanpa GPS, tanpa proposal lengkap, hanya suara Tuhan dan keyakinan dalam hatinya.
Iman bukan anti-logika, tapi melampaui logika
Iman bukanlah kebodohan. Iman tidak menolak fakta, tetapi mempercayai bahwa ada realitas yang lebih tinggi daripada apa yang bisa dilihat. Dalam Ibrani 11:1 dikatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ketika logika mengatakan “tidak mungkin,” iman berkata, “segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Markus 10:27).
Sebagai manusia, kita diberi akal dan iman, keduanya penting. Tapi akan tiba masa ketika logika kita tidak bisa menjawab semuanya. Di situlah iman diuji dan dibuktikan. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan (Yohanes 6:5-13), secara logika, itu tidak masuk akal. Tapi mujizat terjadi justru saat para murid patuh dan bertindak berdasarkan perintah Yesus.
Mengapa kita harus berani memilih iman?
Karena hidup bukan hanya soal masuk akal, tapi tentang berjalan dalam kehendak Tuhan. Kadang kita dipanggil melangkah ke hal yang belum kita pahami sepenuhnya, namun Tuhan meminta kepercayaan kita terlebih dahulu. Seperti Petrus yang diminta berjalan di atas air, ia sempat berhasil karena fokusnya pada Yesus, bukan pada gelombang (Matius 14:29-30).
Jadi, saat imanmu bertabrakan dengan logikamu, jangan buru-buru menolak salah satunya. Doakan, renungkan, dan tanya: “Apakah ini kehendak Tuhan?” Jika ya, meskipun belum masuk akal, percayalah. Karena Tuhan tidak butuh izin dari logikamu untuk menggenapi rencana-Nya.