Di banyak keluarga, Santa Claus terasa seperti “ikon wajib” Natal. Ada yang menganggapnya sekadar hiburan anak, ada yang resah karena khawatir Santa menggantikan Yesus, ada juga yang menolaknya total karena dianggap tidak rohani. Pertanyaannya wajar: Santa Claus dan Kekristenan, apakah Alkitabiah?
Jawabannya tidak sesederhana “haram” atau “pasti boleh.” Alkitab tidak pernah memerintahkan atau melarang Santa Claus, karena Santa adalah simbol budaya yang muncul jauh setelah zaman Alkitab. Namun Alkitab memberi prinsip yang sangat jelas untuk menilai simbol apa pun: apakah ia menolong kita memuliakan Kristus atau justru menutupi Dia (1 Korintus 10:31). Jadi pertanyaannya bergeser: bagaimana Santa dipakai, apa yang ia ajarkan, dan siapa yang menjadi pusat Natal di rumah kita.
Asal-usul Santa: Dari Teladan Memberi ke Ikon Pop Modern
Yang sering mengejutkan, “Santa” tidak muncul dari ruang hampa. Banyak tradisi Barat mengaitkannya dengan Nikolaus, seorang uskup Kristen abad ke-4 di Myra (wilayah Turki modern), yang dalam legenda dikenal karena kebiasaan memberi secara rahasia dan kemurahan hati kepada yang membutuhkan. Jejak tradisi ini kemudian berkembang menjadi cerita rakyat “Santa Claus” melalui figur seperti Sinterklaas.
Namun “Santa” yang kita lihat sekarang bukan cuma hasil sejarah gereja awal. Ikon Santa modern juga dibentuk kuat oleh budaya populer. Misalnya, iklan Coca-Cola tahun 1931 dengan ilustrator Haddon Sundblom ikut membakukan citra Santa yang “hangat, realistis, berjanggut putih, dan berbusana merah” di imajinasi publik.
Di Inggris, figur lokal seperti Father Christmas juga mengalami proses bercampur dengan Santa ala Amerika seiring berkembangnya kebiasaan modern.
Jadi, Santa yang kita kenal hari ini adalah campuran: ada jejak teladan memberi, tetapi juga ada lapisan komersial dan hiburan yang bisa menjauh dari makna Natal.
Prinsip Alkitab: Bukan Soal Tokoh, Tetapi Soal Kebenaran dan Pusat Ibadah
Alkitab memanggil orang percaya untuk hidup dalam kebenaran. “Buanglah dusta dan berkatalah benar” (Efesus 4:25). Ini langsung menyentuh isu yang paling sensitif: apakah kita “menceritakan Santa” sampai anak percaya bahwa ada figur supranatural yang diam-diam menghakimi dan memberi hadiah. Jika Santa dipakai sebagai “alat bohong” demi menakut-nakuti atau memanipulasi perilaku anak, itu bertabrakan dengan panggilan hidup dalam terang.
Alkitab juga mengingatkan bahwa hati manusia mudah mengalihkan pusatnya. “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Natal yang semestinya menyorot kelahiran Sang Juruselamat (Lukas 2:10-11) bisa tergeser menjadi musim belanja, gengsi, dan hadiah. Di titik ini, Santa bukan masalah karena namanya, melainkan karena fungsi budaya yang membuat kita lupa bahwa pusat Natal adalah Kristus.
Namun Alkitab juga memberi ruang kebebasan dalam hal-hal yang bukan perintah langsung. Roma 14:5-6 menegaskan tentang hari-hari tertentu dan keyakinan pribadi. Prinsipnya: jangan saling menghakimi dalam perkara yang tidak menjadi inti keselamatan, tetapi tetap gunakan kebebasan untuk membangun, bukan menjatuhkan.
Kapan Santa Menjadi Tidak Sehat Secara Rohani
Santa menjadi masalah ketika ia mengambil posisi yang seharusnya milik Tuhan. Ini terjadi, misalnya, ketika Yesus tidak lagi disebut, tetapi Santa, hadiah, dan pesta menjadi isi utama. Santa juga menjadi tidak sehat ketika ia dipakai untuk menanamkan pola pikir “aku baik supaya dapat hadiah,” bukan memperkenalkan anugerah Allah. Alkitab menegaskan bahwa setiap pemberian yang baik berasal dari atas (Yakobus 1:17). Jika anak belajar bahwa sumber sukacita dan berkat adalah “Santa”, sementara ucapan syukur kepada Allah hilang, maka arah hati mulai melenceng.
Santa juga bermasalah ketika budaya “naughty or nice” membuat anak memandang Natal sebagai ajang penilaian moral demi hadiah. Injil mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: kita diselamatkan bukan oleh performa, tetapi oleh anugerah. Natal adalah kabar Allah datang kepada manusia yang lemah, bukan hadiah bagi manusia yang sukses.
Sikap Kristen yang Sehat: Mengambil yang Baik, Menolak yang Menggeser Kristus
Sikap yang paling bijak adalah menempatkan Santa sebagai simbol budaya, bukan kebenaran iman. Jika keluarga Anda memilih tetap memakai Santa sebagai cerita anak, lakukan dengan batas yang jelas: jangan jadikan Santa sebagai kebohongan yang harus dipertahankan, dan jangan biarkan Santa menjadi “tokoh spiritual pengganti” yang memegang peran Allah.
Banyak keluarga memilih pendekatan yang lebih jernih: Santa sebagai “cerita” atau “permainan imajinasi”, sementara yang nyata dan disembah adalah Yesus. Dengan begitu, Anda tetap menjaga Efesus 4:25, sekaligus menghindari drama “anak merasa dibohongi” saat bertumbuh.
Lebih indah lagi jika Anda “menebus” maknanya: arahkan Natal pada teladan memberi. Kisah St. Nikolaus sering dipahami sebagai teladan kemurahan hati, dan itu sejalan dengan semangat Alkitab bahwa “lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35). Jadi, bukan Santa yang dipertuhankan, melainkan kasih yang diekspresikan dalam memberi sebagai buah iman.
Kesimpulan: Santa Bukan Ukuran Natal, Tetapi Kristus Harus Tetap Pusat
Santa Claus tidak “Alkitabiah” dalam arti tidak berasal dari perintah Kitab Suci, tetapi Santa bisa diperlakukan secara bijak atau secara merusak. Jika Santa dipakai untuk kebohongan, konsumerisme, dan menggantikan Kristus, itu perlu ditinggalkan atau dikoreksi. Jika Santa diperlakukan sebagai simbol budaya yang tidak mengambil tempat Yesus, dan malah dipakai untuk mengajarkan kemurahan hati, maka isu utamanya bukan Santa, melainkan siapa yang dimuliakan dalam Natal.
Pada akhirnya, uji yang paling jujur adalah ini: apakah keluarga kita makin mengenal Yesus lewat Natal, atau justru makin jauh karena tertutup dekorasi dan hadiah. Natal yang sehat akan membuat kita berkata: Kristus pusatnya, memberi adalah buahnya, dan semua dilakukan bagi kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).