Dalam perjalanan iman, ada masa ketika kita bertanya pada Tuhan, “Kenapa ini terjadi? Kapan Engkau bertindak? Mengapa Engkau diam?” Namun, seringkali Tuhan tidak memberi jawaban instan. Bukan karena Dia tidak peduli, tetapi karena yang kita butuhkan sebenarnya bukan penjelasan, melainkan hadirat-Nya.
Kisah Ayub menggambarkan hal ini dengan jelas. Setelah kehilangan segalanya, Ayub mencari jawaban. Ia ingin Tuhan menjelaskan alasannya. Namun, ketika Tuhan akhirnya berbicara (Ayub 38-41), Dia tidak memberi penjelasan detail. Sebaliknya, Tuhan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya atas alam semesta. Dari situ Ayub berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Pertemuannya dengan hadirat Tuhan mengubah segalanya, bahkan sebelum keadaan Ayub dipulihkan.
Jawaban mungkin bisa meredakan rasa penasaran, tetapi hadirat Tuhan memberi kedamaian yang melampaui akal. Mazmur 16:11 berkata, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”
Ketika kita berada dalam masa sulit, hadirat Tuhan membuat hati kita tetap teguh walau situasi belum berubah. Seperti seorang anak yang tidak mengerti alasan badai di luar rumah, tetapi merasa aman karena ada di pelukan ayahnya. Hadirat-Nya menjadi tempat perlindungan yang tidak terguncang.
Jika saat ini kamu tidak mendapat jawaban yang kamu harapkan, jangan buru-buru menganggap Tuhan jauh. Mungkin Dia justru memanggilmu lebih dekat, agar kamu merasakan kedamaian yang tidak bergantung pada logika.
Tuhan, ajar aku untuk lebih merindukan hadirat-Mu daripada jawaban atas semua pertanyaanku. Peluk aku dalam kasih-Mu, hingga hatiku tenang meskipun aku belum mengerti segalanya.